“God must’ve loved me so much, He joked a lot with me. Every time I tell stories of my mishap and misfortunes, people laughed.”
Sabtu, Maret 09, 2013
What If I Just Kill This Blog?
I have this blog for so long but right now I don't think it will go anywhere.
Either I revamp everything -- which I doubt that I have time or energy to do that -- or just delete the whole thing.
You see, I don't think no one read this blog and when sometimes I'm okay with that, many times I think writing where no one will ever read it, is a waste of time. And thoughts.
So, what if I just kill this blog?
Rabu, Juli 18, 2012
How To Talk To People?
Talking is never my good point. I know this and I want to make improvement on this issue.
Talking to other people, to be able to smoothly convey my intention and meaning, to persuade the person that I mean to persuade, is a challenge in my everyday life. This couldn't continue!
The thing is, HOW to improve myself?
We. Are. Now.®
Sabtu, Oktober 22, 2011
Obsessing With Order
I Prefer Order. Surprising Elements Must Be Minimized.
Minggu, Agustus 07, 2011
Unethical (Only In Your Mind!)
Aku ingin dapat berkarya dalam hidup, memberikan sumbangan bagi kemanusiaan -- seberapapun kecil dan tak berartinya -- dengan tulus. Aku hanya belum tahu harus memberikan dalam bentuk apa.
Aku tak ingin hidup dalam kehidupan orang lain. Aku ingin hidupku sendiri.
Aku ingin bisa berbagi dengan orang lain. Saat ada yang berterima kasih kepadaku, aku senang dan merasa hidup tidak sia-sia.
Hidup pasti ada cobaan. Aku hanya perlu bertahan, mencari solusi bagi masalah yang timbul, dan menerima apa yang memang sudah terjadi dan tak bisa kuubah lagi. Tak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi.
Aku ingin dapat lebih santai dan menikmati hidup. Terburu-buru itu melelahkan. Sayangnya, aku tahu aku sudah ketinggalan banyak hal. Satu-satunya cara mengendalikan kerugian yang sudah terjadi adalah dengan mengejar segalanya. Efeknya adalah hidup yang tak lagi bisa dinikmati sepenuhnya. Trade-off, sepertinya, harus menjadi hal yang kuterima dalam hal ini.
Aku ingin punya teman-teman sejati. Selama ini masih sulit kutemukan. Masalahnya adalah mungkin karena aku belum bisa menjadi teman sejati bagi orang lain.
Aku mau bisa membaca lebih banyak lagi buku yang menarik. Melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Aku yakin dengan melakukan kedua hal ini, hidupku akan semakin kaya.
Seandainya aku lebih peka, sensitif terhadap keadaan sekitarku, pastilah banyak hal menarik dan bermanfaat yang bisa kupelajari tanpa harus pergi jauh bertualang. Terdengar kontradiktif dengan ucapanku sebelumnya, tapi itulah hidup. Tak ada yang sederhana tetapi semuanya bisa diselesaikan dengan sempurna dalam kesederhanaan alam semesta.
Aku ingin bisa mempertanyakan "Kenapa?" pada banyak hal tetapi bisa menerima orang yang memang tidak bisa berubah.
Seharusnya aku tak menyalahkan orang lain selain diriku sendiri, atas apa yang terjadi dalam hidupku.
Jumat, Mei 20, 2011
Could You Tell Me Better?
Could you tell me in a better way other than yelling it out loud?
I certainly wouldn't mind a civilized talk instead of the cavemen communication that we're having right now. I know that you just want to talk using your loud voice and your fists but I know that wouldn't work well with both of us not want to listen to what other party want to say.
Could we sit down and discuss things matter of factly in normal voice without all the intimidating gestures?
I know we can. I insist we should.
Shall we?
Rabu, Mei 11, 2011
Time Flies And I Am Still Here Part II
I know I'm not the only one who felt this way but I do not know where to find someone with similar predicament. This is funny, talking about failure and yet able to keep the lid on emotional breakdown. Such is the challenge these days, right? Keeping it straight, putting up a face, when actually little by little, everyday, you die in layers and bits and parts.
Selasa, April 12, 2011
Kambuh Lagi
Mengganggu sekali dan membuatku tak nyaman untuk bekerja, apalagi kalau harus berpikir cukup keras. Sama sekali tidak menyenangkan dan menghambat produktivitas. Aku harus berpikir keras untuk sesuatu yang sebenarnya -- saat keadaanku sehat -- dapat kutemukan solusinya dengan gampang.
Sekarang saja mau menulis e-mail yang agak panjang, butuh waktu yang lama, karena beberapa kali seperti hilang begitu saja rangkaian pikiran di dalam kepala.
Aku tahu obat terbaik adalah istirahat yang cukup dan banyak minum air putih tetapi, kau tahu, waktu istirahat yang cukup dan tidak terganggu soal pekerjaan itu adalah hal yang sangat amat mewah bagiku. Bahkan tadi saja ketika istirahat, masih banyak hal yang mengganggu karena dihubungi berkali-kali. Lalu yang kulakukan adalah membuat mode silent pada telepon genggamku dan melanjutkan tidur. Lumayanlah.
Sekarang aku seharusnya mencoba tidur lagi. Ayo dong mengantuk!
Selasa, Maret 08, 2011
Menangis
Aduh lelahnya.
Selasa, Desember 14, 2010
Brrrrr....
When the Khilafah is established and the Islamic State governed by Sharia returns, the victims of Democracy in this article will be able to worship in peace.
That quote, written by a commentator of this article, making me shudder with a sense of fear.
Senin, Oktober 18, 2010
Maybe I'm Being Ungrateful (Joyless Times Part 3 of Many)
The way you could see it is that I am being selfish and ungrateful.
When I have a friend to whom I can confide my personal problems, how could I called other people -- the lonelier ones -- as more fortunate than myself?
Sabtu, Oktober 16, 2010
Kamis, Oktober 14, 2010
Worried Sick
Is there nothing that I can do?
C'mon, I am not that stupid as to give up without trying to do anything..?
I will do something about this, because I (see below)
Senin, Agustus 23, 2010
joyless times
it saddens me that i hurt you no matter what i do.
sad and depressed.
even worse, my daily life sucks because i work on a place where i felt stuck.
you know why i don't change work?
because a change of work will take me farther away from you.
because i am competent at nothing and you know it as well as i do.
Senin, Mei 31, 2010
Kita Tak Bisa Percaya
Rabu, Mei 26, 2010
trust in you
tattooed women, bad?
Smoking Women, Banned?
just curious: why is that some people - including some that i have personally known - dislikessmoking women? i mean, to them (and probably you too), think that it is inappropriate for women to smoke, but think otherwise for men. is it okay - and normal - for men to smoke because they are men? is it wrong for women because women shouldn't be smoking in the first place? i had started some never ending debates over this issue and the reason why they were unfinished because both parts kept to their own POV.
that's what i am trying to start right now. i think i am not a feminist, but the idea that women should and shouldn't do something just because they're females just a little bit absurd, since a child can not decide what sex he/she born with (that's why we got transsexual now) and rights shouldn't be limited to some factors that you can't really control (sex, skin color, place of birth, etc.).
i have to admit, i am not a smoker and sometimes i just can not tolerate the billowing smoke. that's why in the past times i just left the room abruptly. so maybe you can say i am biased. when i was a child, my father is a smoker. but he quit for reasons i still haven't found out. of course i stole some cigarette he owned, just out of curiousity, to feel what is it like to be smoking. i lighted the cigarette, try it, then coughed because the smoke stung my senses. i threw it away while my so-called friends laughed at me. i do not left them though. i sat with them watching they consume rest of my thieving goods. yes, afterward there are peer pressure too, but maybe the pressure is not enough to "break" me.
all in all, this is all about option and just to think that there are other people out there that think you SHOULD or SHOULDN't do something because it is inappropirate based on some weak reasons makes me wondering...
cont'd
Cita-Citaku
cita-citaku, ingin menjadi polwan, tapi sayang aku seorang lelaki
- "cita-citaku" by the panasdalam
waktu kecil, aku pernah ingin menjadi seorang "supir tank". aku tak mau jadi tentara, aku mau jadi "supir tank". tentu gagah sekali membawa kendaraan sebesar itu, dengan meriamnya yang mampu menghancurkan lawan.
itu sebelum aku menonton serial CHIP's.
setelah itu aku ingin menjadi seperti eric estrada, mutar-mutar kota naik moge, dengan helm, kacamata hitam, dan sepatu boot kulit. bunyikan sirene dan nyalakan lampu strobo. gagah!
itu sebelum aku menonton Goggle V.
setelah itu aku ingin menjadi goggle merah, memimpin teman-teman membasmi kejahatan. menaiki robot raksasa dan bertarung melawan monster.
lalu menyusul pula kamen rider black, gaban, sharivan, megaloman, dan zabogar,dan lionman. semuanya keren. saat itu terjadi krisis identitasku yang pertama. mau jadi apa aku nanti?
tapi, di atas itu semua, aku hanya mau jadi ULTRA-MAN. datang ke bumi dari planet Ultra, menolong Jepang dari kehancuran yang diakibatkan oleh monster! tapi sayangnya aku tak akan bisa bertahan lama dalam wujud ultra,karena pengaruh kosmik bumi yang berbeda dibanding dengan di rumah.
kemudian aku menonton serial "the incredible hulk" sehingga aku memutuskan: SCIENCE IS THE ANSWER! setelah risetku berhasil dan aku berhasil menemukan cara untuk menjadi manusia super, aku akan bertualang untuk menegakkan keadilan versiku sendiri dan untuk menolong orang-orang. tentunya dengan imbalan tertentu. toh riset dan percobaan membutuhkan biaya.
tetapi kemudian aku menonton MTV Headbanger's Ball. dan hey! rasanya keren bisa bermain gitar, menggebuk drum, berteriak-teriak di mic di hadapan puluhan ribu fans yang berteriak, meloncah, mosh, headbanging bersama. sungguh suatu pemice adrenalin yang luar biasa!
lalu aku membaca All That Remains karya Patricia D. Cornwell. kuputuskan, aku akan menjadi seorang ahli forensik yang gigih membongkar kejahatan dengan cara membedah mayat. tentunya dengan cara-cara yang ilmiah pula. once more, science attracted me. ternyata aku bertemu dengan guru biologi di smu yang dengan sukses menghilangkan keinginanku untuk itu. apalagi aku harus mengambil kedokteran, ikatan dinas, sebelum bisa ambil spesialisasi forensik.
terjadilah krisis tahap 2. mau jadi apa aku ini???
aku pernah ingin menjadi perampok bank. lengkap dengan aksi tembak-tembakan dan meloloskan diri dengan mengebut dan taktik pengecohan yang brilian. bukan seperti si dalton bersaudara dalam komik lucky luke.
aku pernah ingin menjadi professional surfer/waverider. main ke pantai setiap hari, mengendarai ombak. berjemur di pantai. berpesta dengan gadis-gadis cantik berbikini. what a dream!
aku juga pernah ingin menjadi penulis. cerita fantasy seperti Piers Athony (thanks to Adeline for introducing me to him), atau science fiction seperti Michael Crichton, atau sang pelopor: Jules Verne!
mengasyikkan untuk bisa menulis sesuatu yang akan menggugah seseorang.
tapi sekarang, tak satu pun cita-cita dan keinginan itu yang kesampaian. menyedihkan? tidak juga. aku memutuskan untuk menjalani hidup apa adanya. at least, pekerjaanku sekarang masih mengandung unsur-unsur pendukung dari beberapa cita-citaku.
jadi, kecuali soal gaji dan jam kerja, i have no complaints!
Going Home for Christmas
Today, my boss' wife asked me whether or not I'm going home for this year's Christmas. I told her that I doubt it. Then she asked me why and I replied that's because "going home" is not a high;y-anticipated opportunity in my uneventful life.
But it does spark something in my head. Since I left home after graduating from high school, I've been celebrating Christmas only twice with my family. That was on 2000 and 2001. Other times, I was in Bandung, West Java, and Pontianak, West Borneo.
I did miss something from the usual family reunion. That's the ritual of going together to the church and helping in the kitchen. Actually, I am not a help at all, being a nuisance when I was a kid. Everytime a new batch of cookies out of the oven, it'd be me and/or my brother's task of tasting them.
But now, the term: "Going Home for Christmas" is just like any other sentence. I haven't come home for such a long time that I forget how and what it was like. I don't see a need for coming home, to meet my parents and sisters. I don't see the importance of "mudik" that my other fellow Indonesian do at this time of the year.
What's so great with coming home and meet up with your family and friends? How come most people feel the urge - so great thet they'd do almost anything to reach HOME - to go "mudik" while there are some people that won't be able to do it at all?
Pontianak, 18 September 2005
Hari Minggu, 18 September 2005, kota Pontianak. Sebenarnya tak ada yang istimewa. Kecuali pada saat aku keluar mau makan siang, jalanan terasa sepi padahal dari itu hari libur. Banyak toko yang tutup pula. Ini tidak normal, pikirku.
Kemudian aku ingat, hari ini hari baik! Alasannya sebagai berikut:
1. Hari Minggu = hari libur
2. Tanggal 18 September 2005 menurut kalender bulan adalah malam bulan purnama, which brings good things.
3. 18 September = 18 bulan 9 = 1 + 8 + 9 = 18 = 1 + 8 = 9! which is good too..
Itu sebabnya jalan sepi, toko pada tutup, warnet juga sepi! Hore! Yang rame itu gedung-gedung yang disewa untuk acara resespsi pernikahan, maupun beberapa rumah yang dipakai buat pesta pernikahan. Pokoknya banyak deh yang menikah pada hari itu...
Malam harinya jalanan mulai ramai. Terutama SPBU/pom bensin. Beberapa SPBU memang sejak Sabtu malam telah memasang tanda "bensin habis". Akibatnya orang terpaksa membeli bensin eceran yang banyak di tepi-tepi jalan. Begitu stok BBM ada di SPBU resmi, berdatanganlah para pemilik kendaraan. Termasuk aku.
Dalam setengah jam, antrian mobil dan motor telah mencapai hampir 1 kilometer! Padahal mobil ada dua baris dan motor juga dua baris antrian. Jadi jumlahnya perkirakan saja sendiri!
Polisi segera datang untuk mengatur barisan antrian demi mencegah keributan dan mengatur lalu lintas karena sudah macet pada ruas jalan itu.
Untunglah aku lewat ketika SPBU baru mulai operasi sehingga antrian di depanku cuma sekitar 20-an meter saja.
Buat teman-teman yang belum pernah merasakan antrian untuk mengisi BBM (misalnya di Bandung dan Jakarta), mungkin tak bisa membayangkan kondisi seperti ini yang bisa terjadi paling tidak seminggu sekali.
