Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 14, 2012

Membangun Kerjasama Tim

Aku benar-benar ingin tahu bagaimana caranya seorang pemimpin yang baik bisa membangun kerjasama tim yang mengagumkan. Apakah itu terkait dengan kemampuan tiap individu yang menjadi elemen dari tim tersebut? Maksudku, bagaimana mungkin orang-orang yang sangat egois dan hanya mengutamakan diri sendiri bisa melepaskan kebiasaan yang sudah mendarah daging dan kemudian membentuk tim dengan kerjasama yang baik?

Tim yang baik terdiri dari orang-orang yang memang ingin dan bisa bekerjasama, bukan?

Minggu, November 11, 2012

Jembatan

Aku masih ingat -- biarpun tidak detil -- hal-hal yang berulang kali menjadi masalah dalam hubungan kami. Semua hal itu bisa dibagi dalam dua kategori:

1. Hal yang berbeda dalam pribadi kami masing-masing, dan

2. Hal yang kami hindari dan tidak dibicarakan, tetapi ada seperti tembok yang menghalangi.

Aku rasa dia juga tahu. Hanya saja dia tidak sampai kelompokkan seperti pembagian di atas. Atau mungkin dia mengkategorikan hal-hal itu tetapi dengan label yang berbeda.

Yang jelas, dalam hal pertama, aku merasa seperti dikekang. Tidak boleh ini. Tidak disetujui itu. Dilarang begini atau begitu. Kadang aku sampai berpikir, seperti dipenjara! Tentu aku tak bisa perbandingkan dengan penjara dalam artian sebenarnya karena aku tak pernah masuk sel tahanan ataupun lembaga pemasyarakatan.

Tetapi ketidaksukaannya yang eksplisit pada hobiku dan alasannya bahwa aku seperti tidak memprioritaskan hubungan kami. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan kepada seseorang yang aku tak tahu punya hobi jelas atau tidak, bahwa yang namanya hobi memang kadang bisa menguasai seseorang sampai berkali-kali menomorduakan pasangannya. Mungkin, seandainya saja dia mulai benar-benar menekuni sebuah hobi yang menuntut upaya dan kreasi, kreativitas, energi, waktu, dan uang, mungkin pada saat itu dia bisa mengerti.

Sementara ini? Aku tak yakin dia bakal paham.

Aku punya pikiran sendiri dan akhir-akhir ini daripada bicara, aku lebih memilih diam dan berpikir. Aku bisa menghabiskan berjam-jam perjalanan dengan seorang supir, berdua saja dalam mobil kantor, menuju lokasi, dan aku tak akan bicara sepatah katapun. Tapi lebih baik diam, menurutku, daripada bicarakan hal yang tak aku minati, ketika aku lebih memilih bergelut dengan pikiranku sendiri.

Sedangkan mengenai hal kedua. Aku tahu dia tahu tapi dia tetap tak mau bicarakan. Itu pilihannya. Itu keputusannya. Seperti menunda dan menghindar. Topik sensitif yang akan menarik kami menuju kutub masing-masing, memisahkan kami begitu jauh sampai, kuharap tidak, kami akan berpisah.

Aku butuh jembatan. Sesuatu yang akan bisa menghubungkan perbedaan kami.

Atau lebih baik, aku belajar menjadi jembatan itu. Resikonya adalah, bila gagal, kami akan terpisahkan...

Kamis, Oktober 04, 2012

Now What?

That's what I thought right now.

Because now I have been working in a multinational company, which was a hope that I secretly had in my heart.

"What it would feel like, to work in a multinational company? Do I have what it takes to be?"

I know both answer to that questions.

The thing is, maybe I wasn't being specific with my thought/wish/dream.

I should aim to a  certain multinational company -- not just any multinational company -- in a specialized field. That way I have a destination to plan and prepare against. To work myself into.

Now I don't know what to do.

That's why I wrote this, here, as a reminder for my mistake.

No, not for being work here.

Yes, a mistake, for not being really plan my life.

Sabtu, Agustus 04, 2012

Lebih Setahun Sudah

Lebih setahun sejak terakhir aku posting di blog ini dengan mood yang seperti ini.

Tak ada yang benar-benar berubah dariku kecuali bertambah tua. Masih seperti yang dulu, yang selalu melakukan kesalahan (yang sama!) dan tak bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk diri sendiri. Benar, aku menyerahkan kewajiban (atau hak?) itu kepada orang lain.

Seperti berjalan di tempat sementara orang lain sudah ada di terminal yang berbeda, di stasiun yang lain, di kota yang baru, dalam alam yang berbeda.

Lebih setahun sudah sejak terakhir aku menulis posting di blog ini dengan mood yang seperti ini dan masih tetap saja belum ada hal membanggakan yang sudah berhasil kucapai.

Setidaknya aku masih bertahan hidup di kota besar ini.

Mungkin, itu sebuah prestasi?

Rabu, Juli 18, 2012

How To Talk To People?

How do I talk to other people so that they can - and will - conform to my request and/or demand?

Talking is never my good point. I know this and I want to make improvement on this issue.

Talking to other people, to be able to smoothly convey my intention and meaning, to persuade the person that I mean to persuade, is a challenge in my everyday life. This couldn't continue!

The thing is, HOW to improve myself?
We. Are. Now.®

Sabtu, November 26, 2011

Identify The Problems, Then Do Something

There are a lot of problems here in my current geographical position. To my dismay, these kind people live life as they usually do, BEFORE they were more complicated.

The challenge would be to tell these kind people that they have HUGE problems. That they have to CHANGE

Eventhough I can identify the problems, the solution depends on these people admit that they have problems -- which when they can't solve the problems, then they should seek professional help. I should learn to be more convincing about any subject.

Rabu, September 07, 2011

Ancaman Kosong

Sebagai seorang yang bertanggung-jawab terhadap operasional kantor sehari-hari, aku merasa "impoten" karena cuma bisa memberikan teguran dan ancaman kosong. Kurasa semua orang di kantor sudah tahu bahwa teguran yang kuberikan dan ancaman (yang sangat jarang sekali) kulontarkan adalah hal yang kosong dan tak berarti.

Kenapa bisa begitu?

Karena The Boss tidak akan melakukan tindakan perbaikan apapun. Beliau tidak akan mau ambil pusing soal glitches and mistakes that happens daily. Beliau (sepertinya) hanya mau omzet yang berlipat ganda yang berarti profit margin yang semakin besar.

Di sinilah kami berbenturan. Berkali-kali.

Dan aku hanya akan dianggap seperti macan ompon yang gemar mengaum tapi tak mampu menggigit.

Selasa, Agustus 09, 2011

Pantas Untuk Bersedih

Sore ini aku merasa sedih karena sekali lagi melewatkan sehari yang sangat tidak produktif. Aku tak merasa menghasilkana apapun  hari ini dan tak ada karya yang bisa dijadikan semacam prestasi atau apalah. Somehow, deep inside, I'm telling myself that I am useless.

Ini hal yang beracun dan berbahaya bagi diri sendiri maka karena itulah aku bersedih.

Dengan tidak mencintai diri sendiri, berkali-kali abusing myself, tak ada yang akan benar-benar bisa kucapai. Aku tahu aku meracuni diri sendiri tapi kadang I just can't help myself.

Aku butuh pencerahan. Aku tidak tahu mulai mencari dari mana.

Minggu, Agustus 07, 2011

Unethical (Only In Your Mind!)

Aku percaya bahwa Tuhan ada. Hanya saja Dia bekerja dengan hukum-hukum alam yang bisa dicari dan dirumuskan (baca: dipahami) oleh manusia.

Aku ingin dapat berkarya dalam hidup, memberikan sumbangan bagi kemanusiaan -- seberapapun kecil dan tak berartinya -- dengan tulus. Aku hanya belum tahu harus memberikan dalam bentuk apa.

Aku tak ingin hidup dalam kehidupan orang lain. Aku ingin hidupku sendiri.

Aku ingin bisa berbagi dengan orang lain. Saat ada yang berterima kasih kepadaku, aku senang dan merasa hidup tidak sia-sia.

Hidup pasti ada cobaan. Aku hanya perlu bertahan, mencari solusi bagi masalah yang timbul, dan menerima apa yang memang sudah terjadi dan tak bisa kuubah lagi. Tak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi.

Aku ingin dapat lebih santai dan menikmati hidup. Terburu-buru itu melelahkan. Sayangnya, aku tahu aku sudah ketinggalan banyak hal. Satu-satunya cara mengendalikan kerugian yang sudah terjadi adalah dengan mengejar segalanya. Efeknya adalah hidup yang tak lagi bisa dinikmati sepenuhnya. Trade-off, sepertinya, harus menjadi hal yang kuterima dalam hal ini.

Aku ingin punya teman-teman sejati. Selama ini masih sulit kutemukan. Masalahnya adalah mungkin karena aku belum bisa menjadi teman sejati bagi orang lain.

Aku mau bisa membaca lebih banyak lagi buku yang menarik. Melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Aku yakin dengan melakukan kedua hal ini, hidupku akan semakin kaya.

Seandainya aku lebih peka, sensitif terhadap keadaan sekitarku, pastilah banyak hal menarik dan bermanfaat yang bisa kupelajari tanpa harus pergi jauh bertualang. Terdengar kontradiktif dengan ucapanku sebelumnya, tapi itulah hidup. Tak ada yang sederhana tetapi semuanya bisa diselesaikan dengan sempurna dalam kesederhanaan alam semesta.

Aku ingin bisa mempertanyakan "Kenapa?" pada banyak hal tetapi bisa menerima orang yang memang tidak bisa berubah.

Seharusnya aku tak menyalahkan orang lain selain diriku sendiri, atas apa yang terjadi dalam hidupku.

Senin, Juli 18, 2011

Daftar. Daftar. Daftar.

Ada banyak hal yang perlu kulakukan dan memang melihatnya saja membuatku pusing karena, well, begitu banyaknya detail hidupku yang berceceran, berantakan, tak terurus dengan baik. Aku seperti gembel yang bermimpi menjadi orang kaya, berpengaruh, dan dihormati, padahal kenyataannya selama ini aku tinggal di sebuah tempat pembuangan sampah (figuratively speaking).

Yang perlu aku lakukan adalah melakukan perubahan yang drastis terhadap hidupku karena -- seperti semua orang di dunia -- aku hanya akan bertambah dalam tua setiap hari yang terlewatkan.

Yang aku butuhkan adalah bantuan dalam menjalani hidup. Mentor, guru, pembimbing.

Figur seperti itulah yang tak kumiliki dalam sekian tahun hidupku yang telah berlalu. Rasanya seperti hidup sia-sia dalam hampir sepuluh tahun ini. Bayangkan, sepuluh tahun!

Ketika orang-orang yang aku kenal telah makin lama makin jaya, makmur, sejahtera, bahagia, kaya, aku tetap bertahan dalam ilusi dan tinggal dalam tempat sampahku yang kuanggap bagaikan istana yang memang layak untukku.

Aku tahu aku bodoh dan aku menyesal.

Kembali ke daftar itu, betapa ternyata aku berantakan dan pertanyaan paling besar adalah:

AKU MULAI DARI MANA?

Untuk itu aku butuh figur pembimbing. Ah ini bagaikan dilema duluan mana, ayam atau telur?

Rabu, Juni 08, 2011

Should Try To

You should remind yourself not to try so hard blaming yourself on every miserable moments in your own life.

Even when the view from the cracked mirror is unpleasant, it is you.

Being hit on a daily basis may constitute as a legal reason for quitting. But that will leave you as a quitter no one would ever remember. Imagine that: A lifelong loser whom nobody remember.

Sad.

Rabu, Mei 11, 2011

Time Flies And I Am Still Here Part II

I forgot to change and when I realized that my surrounding is not good anymore, I felt helpless to move out. The environment that I am living in is not going the way I was expected of it. It become degrade and I have to swallow a lot of feelings just to pass a routine workday.


I know I'm not the only one who felt this way but I do not know where to find someone with similar predicament. This is funny, talking about failure and yet able to keep the lid on emotional breakdown. Such is the challenge these days, right? Keeping it straight, putting up a face, when actually little by little, everyday, you die in layers and bits and parts.

Senin, April 18, 2011

Alasan Untuk Terus Tersenyum

Makin sedikit alasan yang tersedia untuk tetap tersenyum. Rasanya terlalu berat beban hidup yang sebagian memang dibuat sendiri dan sisanya.. Yah, memang bad luck saja kali...

Aku tahu seberat apapun hal yang menimpa seharusnya aku tak menyerah begitu saja. Aku tahu ada orang-orang yang kuperhatikan dan kusayangi yang memerlukanku. Untuk mereka aku harus tetap kuat.

Untuk mereka, aku harus tersenyum. Merekalah alasanku untuk bisa tetap tersenyum. Kepada mereka jugalah aku tetap harus tersenyum.

Selasa, Desember 14, 2010

Christmas Present

She's planning on giving me Christmas present which saddens me because I don't know what to give her.

Selasa, Desember 07, 2010

Pengen Banget Motret

Yeah, hari ini pengen banget motret berhubung hari libur karena Tahun Baru Hijrah. Sialnya tetap saja harus mengurus pekerjaan dan tentu saja saat ini aku sedang di kantor.

Demi pekerjaan yang tiada habisnya dan scope of work yang tak benar-benar jelas pembagiannya, aku tetap mencoba bertahan. Yeah, aku sedang harus mengerjakan pekerjaan yang tak aku suka tetapi aku begitu bodohnya sampai tak tahu cara melepaskan diri dari ini.

Rasanya ingin sekali menendang pantat sendiri agar lebih termotivasi. Ha ha.

Lalu mengingat hubungan personalku yang saat ini terasa tak mampu membuat semangat? Heh, entahlah. Work sucks. Personal life juga tak menyenangkan. Rasanya saat ini aku sedang ada di dalam penjara. Rasanya ingin lari, membebaskan diri, pergi entah ke mana tak peduli dengan ini semua.

Hah, aku yang sengsara.

Rabu, November 03, 2010

Joyless Times (Part 5 of Many)

I wish that I have something more interesting to say (or write in here!) about anything.

Too bad I just can't find joy in doing my tasks anymore. Tasks that demanding me to sit behind a desk and type all day, making calls and appointment, checking the documents, etc.

But that's what makes me feel inadequate and having all these signs of various diseases.

I just wish that I be more joyful instead.

Senin, Oktober 18, 2010

Joyless Times (Part 2 of Many)

Life Will Take You Nowhere

If You Do Not Go Anywhere

Joyless Times (Part 1 of Many)

It saddens me that i hurt you no matter what i do.

Sad and depressed.

Even worse, my daily life sucks because i work on a place where i felt stuck.

You know why i don't change work?

Because a change of work will take me farther away from you.

Because i am competent at nothing and you know it as well as i do.

Senin, Agustus 23, 2010

joyless times

it saddens me that i hurt you no matter what i do.

sad and depressed.

even worse, my daily life sucks because i work on a place where i felt stuck.

you know why i don't change work?

because a change of work will take me farther away from you.

because i am competent at nothing and you know it as well as i do.

Kamis, Juli 15, 2010

Lelah Tidak Sama Dengan Gampang Istirahat

Seperti itulah hasil observasiku atas satu obyek observasi yang paling gampang digunakan: diriku sendiri.

Aku lelah lahir dan batin tetapi aku tahu kalau pun aku mencoba tidur, entah itu beberapa jam kemudian baru bisa tidur atau tidur cepat tapi gampang terbangun atau tidur terganggu mimpi buruk yang mencemaskan atau kombinasi dari hal di atas.

Mimpi buruk tak berarti sama dengan menyeramkan. Lebih ke hal-hal yang menggelisahkan, memalukan, menyakitkan perasaan.

Apalagi hal-hal yang disimpan ke bawah sadar sebagai bentuk pertahanan integritas identitas otak.

Seperti sekarang aku tahu aku lelah dan aku tahu betapa pentingnya istirahat tetapi aku tak bisa tidur, tak bisa memaksa diriku untuk tidur, tak berani mencoba tidur.

Mungkin sebentar lagi aku butuh antidepresan.