That's what I thought right now.
Because now I have been working in a multinational company, which was a hope that I secretly had in my heart.
"What it would feel like, to work in a multinational company? Do I have what it takes to be?"
I know both answer to that questions.
The thing is, maybe I wasn't being specific with my thought/wish/dream.
I should aim to a certain multinational company -- not just any multinational company -- in a specialized field. That way I have a destination to plan and prepare against. To work myself into.
Now I don't know what to do.
That's why I wrote this, here, as a reminder for my mistake.
No, not for being work here.
Yes, a mistake, for not being really plan my life.
“God must’ve loved me so much, He joked a lot with me. Every time I tell stories of my mishap and misfortunes, people laughed.”
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Kamis, Oktober 04, 2012
Sabtu, Agustus 04, 2012
Lebih Setahun Sudah
Lebih setahun sejak terakhir aku posting di blog ini dengan mood yang seperti ini.
Tak ada yang benar-benar berubah dariku kecuali bertambah tua. Masih seperti yang dulu, yang selalu melakukan kesalahan (yang sama!) dan tak bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk diri sendiri. Benar, aku menyerahkan kewajiban (atau hak?) itu kepada orang lain.
Seperti berjalan di tempat sementara orang lain sudah ada di terminal yang berbeda, di stasiun yang lain, di kota yang baru, dalam alam yang berbeda.
Lebih setahun sudah sejak terakhir aku menulis posting di blog ini dengan mood yang seperti ini dan masih tetap saja belum ada hal membanggakan yang sudah berhasil kucapai.
Setidaknya aku masih bertahan hidup di kota besar ini.
Mungkin, itu sebuah prestasi?
Rabu, Juli 18, 2012
How To Talk To People?
How do I talk to other people so that they can - and will - conform to my request and/or demand?
Talking is never my good point. I know this and I want to make improvement on this issue.
Talking to other people, to be able to smoothly convey my intention and meaning, to persuade the person that I mean to persuade, is a challenge in my everyday life. This couldn't continue!
The thing is, HOW to improve myself?
We. Are. Now.®
Talking is never my good point. I know this and I want to make improvement on this issue.
Talking to other people, to be able to smoothly convey my intention and meaning, to persuade the person that I mean to persuade, is a challenge in my everyday life. This couldn't continue!
The thing is, HOW to improve myself?
We. Are. Now.®
Minggu, Mei 06, 2012
Alasan Untuk Berkarya
Apakah alasanmu untuk bangun setiap pagi dan melakukan pekerjaanmu?
Apakah yang mendorongmu untuk berkarya dalam segala kelebihan dan kekuranganmu?
Apa tujuanmu?
Itulah beberapa pertanyaan yang muncul di dalam pikiranku beberapa waktu terakhir ini. Aku harus bisa menemukan cara untuk membangkitkan lagi keinginanku bertualang dan menantang diri sendiri, untuk menghasilkan sesuatu karya yang bisa kubanggakan, yang bisa memuaskan diri sendiri.
Mau jadi apa aku nanti?
Selagi aku masih menemukan kesulitan menjawab hal seperti itu maka aku belum akan bisa menjadi apa yang aku mau. Alasan untuk berkarya.
Apakah yang mendorongmu untuk berkarya dalam segala kelebihan dan kekuranganmu?
Apa tujuanmu?
Itulah beberapa pertanyaan yang muncul di dalam pikiranku beberapa waktu terakhir ini. Aku harus bisa menemukan cara untuk membangkitkan lagi keinginanku bertualang dan menantang diri sendiri, untuk menghasilkan sesuatu karya yang bisa kubanggakan, yang bisa memuaskan diri sendiri.
Mau jadi apa aku nanti?
Selagi aku masih menemukan kesulitan menjawab hal seperti itu maka aku belum akan bisa menjadi apa yang aku mau. Alasan untuk berkarya.
Sabtu, April 07, 2012
Pertanyaan Retoris:
Kenapa Tidak Melakukan Sesuatu Yang Menantang Dan Menyenangkan Untuk Diri Sendiri?
Jumat, Januari 20, 2012
Work Hard Play None
Should Have Know That This Would Not Be One Easy Life.
Right Now I Am Throwing The Dream Of Worklife Balance.
Previously Unbalanced. The Scale Was More Inclined Toward Personal Living. Right Now It's More Work And (Almost) No Play. Feels Like Paying Some Retribution Of Some Sort.
Label:
enjoy life,
jakarta,
rants,
routines
Sabtu, Desember 17, 2011
Another Option, Another System
Should set aside some change for my next smartphone. Just saw a sketching web app that can work with a notes web app that I want to learn to use. This collaboration seemed to be interesting and I think can be really useful for my blogging hobby.
Because open source system that support this app is cheap, I should be able to get one in cash. But to maximize the usage, I must use a larger screen, and that means a much expensive tablet PC.
Work harder then and hope that in the next evaluation, I can get better offer. Only then I will probably set aside some change for the tablet.
Because open source system that support this app is cheap, I should be able to get one in cash. But to maximize the usage, I must use a larger screen, and that means a much expensive tablet PC.
Work harder then and hope that in the next evaluation, I can get better offer. Only then I will probably set aside some change for the tablet.
Selasa, Desember 06, 2011
When In Trouble
When you know that you are in trouble yet do not do anything about it other than pretend that there's nothing wrong, or being ignorant, or just pray it will go away?
Do you know that helplessness, that despair, the thing that made you just wish you were never been born?
Fight it.
That's what I do.
That's what I try to do each time that stupid ugly feeling came up again. I know that I am stronger than what I showed in the outside.
I know in the end that I will prevail. I know this for a fact because I should.
Do you know that helplessness, that despair, the thing that made you just wish you were never been born?
Fight it.
That's what I do.
That's what I try to do each time that stupid ugly feeling came up again. I know that I am stronger than what I showed in the outside.
I know in the end that I will prevail. I know this for a fact because I should.
Label:
anger management,
feeling,
jakarta,
problem,
work
Jumat, Agustus 26, 2011
Libur Dan Kesalahan
Aku tahu kalau berbuat salah adalah sifat yang manusiawi.
Yang sulit kuterima adalah bila kesalahan yang dilakukan tidak dikoreksi oleh yang berwenang sehingga berubah menjadi kebiasaan buruk yang menumpuk lalu berujung pada ledakan masalah.
Seperti yang terjadi sekarang dalam perusahaan ini.
Tidak jelasnya sistem reward and punishment membuat segalanya bisa berantakan.
Kuharap saat itu terjadi, aku sudah tak lagi ada di sini. Aku bosan diberi pekerjaan yang berat yang tidak aku suka dan hanya dibayar rendah apalagi segala masalah yang ditimbulkan semua pegawai akan menjadi tanggung jawabku yang (mungkin) kurang foresight and supervision sehingga semuanya itu terjadi.
Hebat kan? Aku muak.
Yang sulit kuterima adalah bila kesalahan yang dilakukan tidak dikoreksi oleh yang berwenang sehingga berubah menjadi kebiasaan buruk yang menumpuk lalu berujung pada ledakan masalah.
Seperti yang terjadi sekarang dalam perusahaan ini.
Tidak jelasnya sistem reward and punishment membuat segalanya bisa berantakan.
Kuharap saat itu terjadi, aku sudah tak lagi ada di sini. Aku bosan diberi pekerjaan yang berat yang tidak aku suka dan hanya dibayar rendah apalagi segala masalah yang ditimbulkan semua pegawai akan menjadi tanggung jawabku yang (mungkin) kurang foresight and supervision sehingga semuanya itu terjadi.
Hebat kan? Aku muak.
Rabu, Februari 09, 2011
Masih Tak Jelas
Bekerja menghadapi birokrasi memang menyulitkan dan serba tak jelas. Mau diterabas juga tak bisa mengingat bahwa aku tak punya channel tingkat tinggi.
Sekarang banyak hal kami terkatung-katung dan kurasa seorang atasan seperti atasan yang aku punya mengharapkan aku bisa memecah kebuntuan dan menemukan jalur sendiri sebagai akses untuk membantu perusahaan mendapatkan proyek.
Tantangan, memang.
Tetapi rasanya kok berat sekali? Sebagai seorang yang mudah merasa putus asa, hal ini membuatku mengalami kesulitan makan dan tidur.
Segalanya masih tak jelas. Tetapi apa adaya, harus dilakukan, diusahakan, diperjuangkan.
Semangat!
Sekarang banyak hal kami terkatung-katung dan kurasa seorang atasan seperti atasan yang aku punya mengharapkan aku bisa memecah kebuntuan dan menemukan jalur sendiri sebagai akses untuk membantu perusahaan mendapatkan proyek.
Tantangan, memang.
Tetapi rasanya kok berat sekali? Sebagai seorang yang mudah merasa putus asa, hal ini membuatku mengalami kesulitan makan dan tidur.
Segalanya masih tak jelas. Tetapi apa adaya, harus dilakukan, diusahakan, diperjuangkan.
Semangat!
Rabu, Mei 26, 2010
Anthem Untuk Jakarta
"ke Jakarta, ku akan kembaliii......"
demikian lirik sebuah lagu yang populer oleh sebuah grup band yang juga populer pada tahun '60-an (kalau penulis tidak salah ingat)
tetapi sekitar 20 tahun kemudian,
"siapa suruh datang Jakarta, siapa suruh datang Jakarta..."
adalah penggalan lirik lagu yang populer setelah banyak cerita sedih seputar nasib para perantau yang mengadu nasib datang ke Jakarta.
sekarang, tahun 2000-an, apa lagi?
rasanya, di tahun 200-an ini, Jakarta membutuhkan anthem (lagu kebangsaan) baru. lagu yang dapat menggambarkan kondisi ibukota negara kita ini. mungkin single "Membakar Jakarta" dari grup band Seringai? sayangnya hal ini tidak mungkin terjadi karena - jujur saja - ada berapa banyak dari Anda para pembaca budiman, yang pernah mendengar (dan menghapal lirik) lagu tersebut???
rasanya Anda para pembaca - terutama yang berdomisili di Jakarta - perlu mencari, menetapkan, dan mempopulerkan sebuah anthem baru untuk kota Jakarta.
[sebelum itu semua, mungkin anthem untuk Jakarta adalah lagu "Ondel-Ondel" atau "Jali-Jali"???]
BACA, TERTAWAKAN, tetapi TETAP SEBARLUASKAN!
untuk Indonesia (dan Jakarta) yang lebih baik!
(originally published somewhere in the internet on 15-02-2006)
Label:
banjarmasin,
imagination,
jakarta,
music,
rock,
rock band,
Seringai
Minggu, November 08, 2009
How Cool Is Your Siblings
Actually, NOT cool. I have had bad times and worse. My brother can even make a happy morning turned sour or gloom. Such power, wielded in a man's hand.
To think that that guy can ask and make you feel that you have to obey, when actually you're the one who's doing him a favor, now that's a really special power. I just wish that that dude wouldn't abuse it too often.
Oh by the way, big city like Jakarta surely have a lot of people living there, people that maybe at sometimes are so self-centered but not realizing it, that made you felt suffocated. You know you are angry or upset with how some of them treat you but you know that actually they didn't really mean that. It's just that they do what a lot of people did: being unsensitive but mindless about it.
You see, when you have to travel across state border to meet some people, you'd expect the person you're going to meet appreciate your effort, time, and energy you spent to get there. At least to some level. But when you're being told to just wait or being said words like you're disturbing their oh-so-busy-life-and-important-STUFFS-to-do, like you're interrupting some serious business, wouldn't you be questioning what the hell are you even doing there?
Oh I forgot. I just making some unimportant queries that not even need some considerations. Maybe because that I am just a nobody.
Maybe if I am someone, like SOMEONE IMPORTANT, a hot-shot in Jakarta, then -- and ONLY then -- I will get the proper attention (like, minimal?) that (maybe un-) deserved by a man at my state.
That is, the state of nothing?
To think that that guy can ask and make you feel that you have to obey, when actually you're the one who's doing him a favor, now that's a really special power. I just wish that that dude wouldn't abuse it too often.
Oh by the way, big city like Jakarta surely have a lot of people living there, people that maybe at sometimes are so self-centered but not realizing it, that made you felt suffocated. You know you are angry or upset with how some of them treat you but you know that actually they didn't really mean that. It's just that they do what a lot of people did: being unsensitive but mindless about it.
You see, when you have to travel across state border to meet some people, you'd expect the person you're going to meet appreciate your effort, time, and energy you spent to get there. At least to some level. But when you're being told to just wait or being said words like you're disturbing their oh-so-busy-life-and-important-STUFFS-to-do, like you're interrupting some serious business, wouldn't you be questioning what the hell are you even doing there?
Oh I forgot. I just making some unimportant queries that not even need some considerations. Maybe because that I am just a nobody.
Maybe if I am someone, like SOMEONE IMPORTANT, a hot-shot in Jakarta, then -- and ONLY then -- I will get the proper attention (like, minimal?) that (maybe un-) deserved by a man at my state.
That is, the state of nothing?
Label:
jakarta,
life,
lifestyle,
relationship,
status
Minggu, September 27, 2009
Rabu, Juli 01, 2009
What You Are Not.. (Yet)
You're not even a REAL model, YET, but already you started to pick attitudes and embodied it within yourself, some of the worst quality a (so-called) model is.
And that'd be probably your saying that I am not that into socializing with you. And that might be a grain of truth in that since I already sense your unaccepting behaviour -- which include picking with whom you're talking and acknowledgin with -- and I revel on that.
Woman, you're not even a model and the reason people took your pictures because you're one of the only two female in the room who were present to be an object on lighting testing and experimentation project we did.
And sure, you might say that this is such a wimpish act -- by not talking (insulting?) you in front of the others -- but I am sure not want to change the merry mood that session tends to into a sour one.
Until then, woman, be wise. You're just another young female among the abundant young females here living in Jakarta.
And that'd be probably your saying that I am not that into socializing with you. And that might be a grain of truth in that since I already sense your unaccepting behaviour -- which include picking with whom you're talking and acknowledgin with -- and I revel on that.
Woman, you're not even a model and the reason people took your pictures because you're one of the only two female in the room who were present to be an object on lighting testing and experimentation project we did.
And sure, you might say that this is such a wimpish act -- by not talking (insulting?) you in front of the others -- but I am sure not want to change the merry mood that session tends to into a sour one.
Until then, woman, be wise. You're just another young female among the abundant young females here living in Jakarta.
Senin, November 24, 2008
Mengorbankan Yang Tak Punya Suara..
Hebat sekali pemerintah (ibu kota) kita ini!
Ketika tadi pagi aku menyetel salah satu saluran televisi swasta, yang ternyata membahas tentang salah satu kebijakan pemerintah (DKI Jakarta) yang berpendapat bahwa karena traffic di Jakarta 14%-nya adalah anak sekolah, maka untuk mengurangi kemacetan pagi hari, semua sekolah pagi jam masuknya dimajukan menjadi pukul 06.30WIB.
Untuk pengaturan, serahkan kepada Dishub.
Aku yang tadinya sibuk bersiap-siap kerja jadi berhenti.
Whaaa...aattt? ??
Bego sekali orang ini? Kebijakan siapakah itu? Solusi alternatif kemacetan keluaran si Kumis yang mengaku ahlinya itu?
Masa untuk mengurangi beban kemacetan pada jam sibuk adalah dengan MEMAJUKAN JAM MASUK SEKOLAH?
Brengsek sekali (orang-orang) pemerintah yang punya solusi seperti itu.
Gila aja, jam 07.30 pagi saja dulu aku bersekolah, malasnya bukan main. Apalagi ini masuk jam 06.30 HANYA SUPAYA BEBAN LALU LINTAS BERKURANG?
Dasar pemerintahan kacrut.
Kenapa tidak, "Eh, btw, karena beban jam sibuk yang tinggi, bagaimana kalau para PNS masuk jam 06.30 tetapi jam pulang tetap? Kan kita bertugas melayani masyarakat!"
NAH! Seandainya saja kebijakan itu yang dikeluarkan, aku yakin banyak yang akan memberikan apresiasi positif (kecuali tentunya para PNS -- terutama kaum penerima gaji buta bin pemalas itu)!!!
Kenapa sih pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dianggap solusi, tapi mengorbankan para siswa/pelajar yang tidak punya suara?
Kenapa tidak memberikan contoh terbaik dengan lebih dulu mengorbankan diri sendiri?
Apakah ini pemerintah yang baik?
Hanya memberikan solusi parsial?
Hanya mau mengorbankan pihak lain?
Bayangkan kalau pemerintah di pusat negara saja seperti ini, kualitas kebijakan apa yang bisa kita harapkan di daerah?
Ketika tadi pagi aku menyetel salah satu saluran televisi swasta, yang ternyata membahas tentang salah satu kebijakan pemerintah (DKI Jakarta) yang berpendapat bahwa karena traffic di Jakarta 14%-nya adalah anak sekolah, maka untuk mengurangi kemacetan pagi hari, semua sekolah pagi jam masuknya dimajukan menjadi pukul 06.30WIB.
Untuk pengaturan, serahkan kepada Dishub.
Aku yang tadinya sibuk bersiap-siap kerja jadi berhenti.
Whaaa...aattt? ??
Bego sekali orang ini? Kebijakan siapakah itu? Solusi alternatif kemacetan keluaran si Kumis yang mengaku ahlinya itu?
Masa untuk mengurangi beban kemacetan pada jam sibuk adalah dengan MEMAJUKAN JAM MASUK SEKOLAH?
Brengsek sekali (orang-orang) pemerintah yang punya solusi seperti itu.
Gila aja, jam 07.30 pagi saja dulu aku bersekolah, malasnya bukan main. Apalagi ini masuk jam 06.30 HANYA SUPAYA BEBAN LALU LINTAS BERKURANG?
Dasar pemerintahan kacrut.
Kenapa tidak, "Eh, btw, karena beban jam sibuk yang tinggi, bagaimana kalau para PNS masuk jam 06.30 tetapi jam pulang tetap? Kan kita bertugas melayani masyarakat!"
NAH! Seandainya saja kebijakan itu yang dikeluarkan, aku yakin banyak yang akan memberikan apresiasi positif (kecuali tentunya para PNS -- terutama kaum penerima gaji buta bin pemalas itu)!!!
Kenapa sih pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dianggap solusi, tapi mengorbankan para siswa/pelajar yang tidak punya suara?
Kenapa tidak memberikan contoh terbaik dengan lebih dulu mengorbankan diri sendiri?
Apakah ini pemerintah yang baik?
Hanya memberikan solusi parsial?
Hanya mau mengorbankan pihak lain?
Bayangkan kalau pemerintah di pusat negara saja seperti ini, kualitas kebijakan apa yang bisa kita harapkan di daerah?
Senin, November 10, 2008
Keceriaan Minggu Ini

ini poster acara

ini angga dari maliq & d'essentials

ini cewe misterius dari santamonica

ini vicki vokalis burgerkill
Apa yang aku lakukan weekend 08-11-2008?
Stage Photography!!!
Sayang sekali hujan turun ketika KOIL tampil sehingga aku tak bisa foto-foto...
Label:
Burgerkill,
electricity,
jakarta,
Koil,
Maliq and D'Essentials,
PL Fair,
Santamonica
Kamis, Juni 26, 2008
Jakarta Rock Parade 2008

Very interesting, indeed. I just don't know if I could afford the time (three days!!!).
Why would it be three days? Because on day one I want to see Suicidal Sinatra and Koil. On day two I wish to see Getah, Fall, Burgerkill, and Deadsquad. And on day three, it'd be Seringai, Dead Vertical, Efek Rumah Kaca, Adrian Adioetomo, and Sajama Cut.
And on day one, which is Friday, I still have to work! It's workday, everybody!
For daily ticket, it'll cost me IDR 600,000.00 already!
I'm greedy yet cheapskate.
Sigh.
Langganan:
Postingan (Atom)