Tampilkan postingan dengan label managerial skill. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label managerial skill. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 14, 2012

Membangun Kerjasama Tim

Aku benar-benar ingin tahu bagaimana caranya seorang pemimpin yang baik bisa membangun kerjasama tim yang mengagumkan. Apakah itu terkait dengan kemampuan tiap individu yang menjadi elemen dari tim tersebut? Maksudku, bagaimana mungkin orang-orang yang sangat egois dan hanya mengutamakan diri sendiri bisa melepaskan kebiasaan yang sudah mendarah daging dan kemudian membentuk tim dengan kerjasama yang baik?

Tim yang baik terdiri dari orang-orang yang memang ingin dan bisa bekerjasama, bukan?

Senin, Juli 19, 2010

Pengorganisasian, Mutlak Perlu

Dalam sebuah organisasi tanpa sistem pembagian yang jelas sangat mungkin terjadi tumpang tindih tugas dan pekerjaan.

Bila ini terjadi, mungkin sekali berubah menjadi kebingungan bahkan sampai kekacauan. Tak ada yang diuntungkan dengan hal seperti ini. Pemborosan energi dan sumberdaya pekerja akan tak terhindarkan.

Bahkan bisa saja terjadi ada pekerja yang tugasnya menjadi overload dan ada pekerja yang bahkan tidak melakukan apa-apa karena tugasnya yang tumpang tindih dengan beberapa orang itu malah telah dikerjakan seluruhnya.

Meskipun kedengaran menguntungkan bagi pekerja yang makan gaji buta itu, secara keseluruhan organisasi tidak mendapatkan keuntungan bersama. Hal seperti ini bahkan cenderung berpotensi konflik yang dapat menuju perpecahan. Lingkungan kerja bisa berubah menjadi hostile -- sesuatu yang tak diinginkan manajer manapun.

Sebelum disorganisasi seperti ini terjadi, sudah sepantasnyalah seorang manajer yang baik berusaha memperbaiki keadaan, bukan malah turut menjadi bagian dari masalah tersebut.

Jumat, Juli 16, 2010

Dianggap Apa Ya?

Kemarin, ada sedikit pertentangan soal pembagian tugas dan tanggung jawab. Ada tim yang harus ke Pemalang untuk uji fungsi. Ada pekerjaan di Klaten dan Magelang yang tak seorang pun sedang mengurusnya. Ada uji fungsi di Bandung yang tak seorang pun mengurusnya. Ada urusan administrasi proyek yang terpaksa harus kurangkap.

Lalu atasanku menyuruhku berangkat ke Magelang dan Klaten, bersama seorang lagi dari kantor. Kutolak, dengan pertanyaaN, "Lalu siapa yang mengurus kerjaanku di sini?"

"Aku saja'" kata atasanku.

Aku tak menjawab dengan kata-kata. Hanya mengangkat alis dengan ekspresi yang mungkin diartikan orang lain kesal atau marah. Sebenarnya saat itu aku lebih ke tak mempercayai kata-kata atasanku sendiri dibandingkan kesal. Ya, memang ada kesal juga.

Atasanku, melihatku, lalu malah pergi dari group discussion ini.

Aku tak tahu apakah itu baik atau buruk.

Yang aku tahu, akan sangat buruk bagiku menyerahkan pekerjaanku kepadanya. Dokumen penting mungkin akan hilang atau tidak terurus. Beberapa hal penting atau remeh mungkin terabaikan.

Lalu pada saat aku balik dari Jawa Tengah, harus kubereskan semuanya sendiri, karena tak seorang pun yang akan melakukannya. Tak seorang pun mau, kecuali terpaksa, kemudian itu pun akan sambil asal-asalan.

Bagaimana mungkin aku mempercayai pekerjaanku dikerjakan orang yang sering menghilangkan dokumen penting atau diperlukan? Yang sampai menyebabkan beberapa kali kesulitan?

Itulah yang hendak kuucapkan pada saat itu, tetapi batal. Ada sebuah berkas dokumen PO untuk proyek di Tasikmalaya, yang pada beberapa hari yang lalu ditanyakan kepadaku tentang keberadaannya. Yang menanyakan adalah karyawan perusahaan yang mengeluarkan PO tersebut. Seharusnya sudah dikembalikan kepadanya beberapa minggu yang lalu. Aku tidak tahu dokumen itu ada di mana. Maka kutanyakan ke atasanku.

Jawabannya adalah dia sudah mengembalikan PO tersebut ke kantor mitra kami. Ketika kutanyakan kepada siapa dia memberikan, hanya dijawab, "Pokoknya sudah dikembalikan." Ketika kucoba mencari tanda terima penyerahan dokumen, sampai saat aku menuliskan ini, belum kutemukan.

Lalu omongan siapa yang harus kupercaya? Tidak ada.

Tapi aku meragukan atasanku sendiri.

Itulah sebabnya, bila hal sepenting PO saja bisa misplaced, apalagi selembar dokumen yang hanya pelengkap binder project.

Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang?

:(

Kamis, Juli 15, 2010

"Kerja Yang Benar Itu Seperti Apa Sih?"

Itulah yang kupikirkan akhir-akhir ini. Pertanyaan yang SANGAT MENGGANGGU usahaku untuk tetap waras. Dalam hal ini aku tidak mengada-ada. "Ledakan" emosi yang mendadak dan tak terduga, tiba-tiba datang dan biasanya bertahan seharian penuh, tak mau melepaskan cengkeraman pengaruhnya dari diriku.

Ya okay, mungkin terdengar hiperbolis.

Tetapi saat aku mencoba memotivasi diri sendiri agar bekerja dengan sebaik-baiknya seorang karyawan, aku terbentur pada ketidakjelasan standar minimum dan optimal performa karyawan. Bahkan penilaian kinerja yang aku lakukan, teliti pada detail, disiplin waktu, jujur dan bertanggung jawab, tak jelas adanya. Serba samar.

Sekarang seharusnya kau tak lagi heran mengapa aku sampai bertanya-tanya, bukan? Saat aku ingin memberikan performa yang baik, aku tak tahu di mana "buruk" berhenti dan di mana "baik" dimulai! Lalu bagaimana bekerja, kalau kita punya target memajukan dan memperbaiki perusahaan secara keseluruhan?

Senin, Juli 12, 2010

Telepon Yang Tak Kujawab

Dalam sepuluh menit ini ada dua kali telepon masuk dari seorang mitra kerja di perusahaan lain yang tentunya hendak menanyakan progres pekerjaan akuisisi lahan di Jawa Tengah. Sebagai seorang manajer area di sana, wajar dong beliau menelepon menanyakan progres?

Yang tak wajar adalah aku tak berani menjawab telepon itu karena AKU TAK PUNYA LAPORAN PROGRES. Tentu saja tak ada kemajuan pekerjaan karena TAK ADA SEORANG PUN yang mengerjakannya di lapangan! Kenapa tidak ada? Ya karena kami tak ada orang untuk mengerjakannya!

Aku tak tahu mau jawab apa maka tidak kujawab telepon itu. Buat apa? Biar sajalah aku dianggap tak becus bekerja karena sebenarnya yang membuatku dalam keadaan terjepit ini adalah atasanku sendiri. Kami tak memiliki tenaga pekerja yang cukup tetapi tentu saja atasanku tetap mengambil proyek dengan bertaruh bahwa everything will be allright.

Yeah, right. It will be allright but not before I get burned.

Apakah Aku Sendirian Yang Merasa Khawatir?

Itulah perasaan yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Apakah hanya aku sendirian yang merasa khawatir dengan bagaimana proyek-proyek kami berjalan? Apakah aku sendirian yang memikirkan kecepatan sebuah rangkaian pekerjaan dilaksanakan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya? Apakah aku sendirian yang mencoba memikirkan cara mengefisienkan waktu dan mempercepat suatu pekerjaan diselesaikan? Apakah aku sendirian yang khawatir apakah pekerjaan kami comply dengan standar yang ditetapkan oleh operator?

Apakah aku terlalu melebih-lebihkan?

Listrik adalah hal yang urgen, genting, penting, tak bisa diabaikan dalam lingkup pekerjaan dan proyek kami ini. Tetapi lihatlah, sejak tanggal 18 Juni 2010 sampai sekarang, sepertinya hal ini tak dianggap penting atau tak terlalu dipermasalahkan.

Aku sudah mencoba mengingatkan – biarpun memang kurang ngotot – tetapi hasilnya tidaklah optimal. Pada meeting minggu lalu aku sudah diperingatkan soal sambungan daya listrik PLN ini dan saat itu aku diingatkan kalau pada awal proyek sudah mengatakan kalau statusnya adalah “listrik normal” alias tidak ada perlu penambahan trafo. Sekarang ada dua penawaran dari dua kontraktor yang berbeda di mana satu meminta pasang trafo dan satunya lagi tidak menyebutkan pemasangan trafo. Agak aneh dan meragukan. Tentu saja kantor akan memilih kontraktor yang tidak mengajukan penambahan trafo baru.

Perlu kujelaskan adalah bahwa kontraktor yang awalnya ditunjuk kantor dari setelah tanggal 18 Juni itu baru menghubungiku pada tanggal 5 Juli untuk menanyakan alamat lokasi dan tagihan listrik terdekat. Ke mana saja dia selama setidaknya seminggu tak ada mengurus apapun? Lalu kuajukan daftar AKLI daerah tersebut untuk dipilih bagian logistik/purchasing sehingga didapatlah nama dua kontraktor tersebut di atas.

Hanya saja yang membuat aku khawatir adalah sampai hari Senin, 12 Juli 2010, belum ada orang yang berwenang mengambil keputusan, masuk kantor dan mulai mengurus hal ini.

Proyek ini berpotensi lambat serah terima seperti dua lokasi sebelumnya karena masalah listrik dan sepertinya tak ada juga pelajaran yang dipetik dari kasus pencurian kemarin – dimana kami harus mengganti sendiri kerugian karena instalasi listrik yang belum dilakukan – sehingga belum bisa diajukan untuk uji serah terima. Bayangkan, sudah lebih dari dua bulan sejak lokasi site selesai dikerjakan minus sambungan listrik dan sampai sekarang belum juga serah terima.

Kalau kita kurang antisipasi masalah sambungan daya listrik PLN maka hal yang sama mungkin saja terjadi lagi. Tetapi seperti yang kukatakan di atas, sepertinya hanya aku sendirilah yang khawatir.

Senin, Juli 05, 2010

Kesalahan Siapa, Coba?

Ini adalah kesalahan siapa, coba?

Aku sudah meminta dibuatkan Surat Permohonan Pasang Baru PLN sejak sekitar tanggal 25 Mei 2010 dimana surat tersebut AKHIRNYA dibuat tanggal 18 Juni 2010. Apa yang membuat kagum diriku? Surat tersebut tidak diverifikasi lagi dan ternyata oleh mitra kami yang membuat surat tersebut alamat lokasi tercatat di daerah tingkat II yang berbeda!

WTF?

Bayangkan tadi kagetnya aku ketika ditelepon instalatir yang menyebutkan meminta rekening koran terdekat pelanggan PLN pada hari ini tanggal 5 Juli 2010 dan menyebutkan alamat lokasi yang bukan hanya berbeda kampung tetapi malah berbeda kabupaten! Sebulan lebih tak ada kemajuan dan ternyata cuma ada kesalahan yang berarti mengulang dari nol lagi! Dari NOL!

Artinya dalam kondisi normal butuh sekitar 21 hari untuk pasang baru maka timer itu baru bisa dimulai jalannya pada hari Kamis, 7 Juli 2010 nanti karena menunggu rekening koran terdekat. Itupun tentu saja bila langsung dipasang. Kalau masih menunggu survey dan penawaran artinya masih sebulan lagi baru ada harapan listrik nyala.

And somehow, I know I will get blame for it.

Jumat, Juni 18, 2010

Aku Berhak Tidak

Untuk marah, kesal, dan lain sebagainya?

Maksudku hari ini demi mengejar target pekerjaan maka aku harus turun sendiri ke workshop memastikan pembagian tim dan barang sudah sesuai. Padahal aku masih harus mencari Berita Acara Serah Terima beberapa proyek yang rasanya sudah berlalu setahun sampai dua tahun yang lalu. Tanpa salinan BAST ini maka tagihan kantor tidak akan dibayar.

Aku juga masih harus mempelajari draft dokumen SITAC dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk si oknum itu agar dia tidak ada alasan mengelak tidak tahu dokumen. Maklum saja si dodol itu padahal sudah dijelaskan lisan dan menyatakan mengerti tetapi ternyata baca isi dokumen dua paragraf saja seperti tidak mengerti. Padahal aku harus mempersiapkan diri berangkat ke suatu daerah di bagian selatan Jawa.

Aku juga harus mengumpulkan dokumentasi pekerjaan kolokasi padahal aku bukanlah Project Admin tetapi tak ada orang lain di sini yang bisa melakukannya kecuali aku dan atasanku -- tentu saja atasanku menyuruh aku memastikan semuanya berjalan lancar yang berarti aku terpaksa mengerjakannya sendiri.

Tidak mengerjakan sama sekali maka semua makin menumpuk dan pada akhirnya somehow it will be all my fault no matter what.

Craptastic!