Aku masih ingat -- biarpun tidak detil -- hal-hal yang berulang kali menjadi masalah dalam hubungan kami. Semua hal itu bisa dibagi dalam dua kategori:
1. Hal yang berbeda dalam pribadi kami masing-masing, dan
2. Hal yang kami hindari dan tidak dibicarakan, tetapi ada seperti tembok yang menghalangi.
Aku rasa dia juga tahu. Hanya saja dia tidak sampai kelompokkan seperti pembagian di atas. Atau mungkin dia mengkategorikan hal-hal itu tetapi dengan label yang berbeda.
Yang jelas, dalam hal pertama, aku merasa seperti dikekang. Tidak boleh ini. Tidak disetujui itu. Dilarang begini atau begitu. Kadang aku sampai berpikir, seperti dipenjara! Tentu aku tak bisa perbandingkan dengan penjara dalam artian sebenarnya karena aku tak pernah masuk sel tahanan ataupun lembaga pemasyarakatan.
Tetapi ketidaksukaannya yang eksplisit pada hobiku dan alasannya bahwa aku seperti tidak memprioritaskan hubungan kami. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan kepada seseorang yang aku tak tahu punya hobi jelas atau tidak, bahwa yang namanya hobi memang kadang bisa menguasai seseorang sampai berkali-kali menomorduakan pasangannya. Mungkin, seandainya saja dia mulai benar-benar menekuni sebuah hobi yang menuntut upaya dan kreasi, kreativitas, energi, waktu, dan uang, mungkin pada saat itu dia bisa mengerti.
Sementara ini? Aku tak yakin dia bakal paham.
Aku punya pikiran sendiri dan akhir-akhir ini daripada bicara, aku lebih memilih diam dan berpikir. Aku bisa menghabiskan berjam-jam perjalanan dengan seorang supir, berdua saja dalam mobil kantor, menuju lokasi, dan aku tak akan bicara sepatah katapun. Tapi lebih baik diam, menurutku, daripada bicarakan hal yang tak aku minati, ketika aku lebih memilih bergelut dengan pikiranku sendiri.
Sedangkan mengenai hal kedua. Aku tahu dia tahu tapi dia tetap tak mau bicarakan. Itu pilihannya. Itu keputusannya. Seperti menunda dan menghindar. Topik sensitif yang akan menarik kami menuju kutub masing-masing, memisahkan kami begitu jauh sampai, kuharap tidak, kami akan berpisah.
Aku butuh jembatan. Sesuatu yang akan bisa menghubungkan perbedaan kami.
Atau lebih baik, aku belajar menjadi jembatan itu. Resikonya adalah, bila gagal, kami akan terpisahkan...
“God must’ve loved me so much, He joked a lot with me. Every time I tell stories of my mishap and misfortunes, people laughed.”
Tampilkan postingan dengan label keputusan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keputusan. Tampilkan semua postingan
Minggu, November 11, 2012
Senin, Juli 04, 2011
And That Would Be...
Shitty.
That would be shitty and then it will be my own fault.
I really have to contain my anger and frustration.
That would be shitty and then it will be my own fault.
I really have to contain my anger and frustration.
Label:
anger management,
freedom,
future,
keputusan,
young
Jumat, Oktober 16, 2009
Panas Hari Ini
Cuaca kurang bersahabat hari ini. Terasa panas bahkan AC yang dinyalakan pada suhu 18 derajat tak mampu membuatku berhenti berkeringat. Mungkin akan hujan sore ini tapi aku juga tidak tahu. Kuharap tidak.
Aku sudah lama tidak memotret pertunjukan panggung dan tawaran untuk datang ke acara ulang tahun sebuah operator telekomunikasi di Indonesia membuatku ingin sekali menuju Senayan membawa kamera setiaku, si Nikon D50 dengan dua lensa wajib: Sigma 24-70 mm f/2.8 dan Nikon 80-200 mm f/2.8 yang sudah lama sekali tidak dikeluarkan dari tabungnya.
Tetapi tentu saja kekhawatiran soal cuaca adalah persoalan utama. Aku tak tahu dan tak yakin soal cuaca dan kemungkinan hujan-hujanan membawa gear senilai lebih hampir dua puluh juta rupiah (nilai saat aku beli tiap barang) yang rentan terhadap pengaruh elemen -- terutama air -- sangat mempengaruhiku. Ragu kan jadinya untuk berjalan dengan kondisi seperti itu?
Pilihan dan alternatif lain adalah dengan mengendarai mobil dengan resiko kena macet yang biasanya terjadi tiap weekend di rute yang rencananya akan kuambil. Memang terlindung dari elemen tapi ya tetap saja kemacetan akan membuatku terlambat datang ke tempat tujuan ditambah lagi kelelahan menyetir. Tapi setidaknya kamera dan lensa-lensaku aman dari resiko rusak oleh elemen.
Semua itu membuatku ragu dan YA, aku memang seorang yang peragu.
Apapun akhirnya kuharap tidak ada gangguan dan hambatan karena aku sudah ingin sekali memotret pertunjukan panggung. Kuharap semua bisa dilaksanakan dan lancar-lancar saja.
Aku sudah lama tidak memotret pertunjukan panggung dan tawaran untuk datang ke acara ulang tahun sebuah operator telekomunikasi di Indonesia membuatku ingin sekali menuju Senayan membawa kamera setiaku, si Nikon D50 dengan dua lensa wajib: Sigma 24-70 mm f/2.8 dan Nikon 80-200 mm f/2.8 yang sudah lama sekali tidak dikeluarkan dari tabungnya.
Tetapi tentu saja kekhawatiran soal cuaca adalah persoalan utama. Aku tak tahu dan tak yakin soal cuaca dan kemungkinan hujan-hujanan membawa gear senilai lebih hampir dua puluh juta rupiah (nilai saat aku beli tiap barang) yang rentan terhadap pengaruh elemen -- terutama air -- sangat mempengaruhiku. Ragu kan jadinya untuk berjalan dengan kondisi seperti itu?
Pilihan dan alternatif lain adalah dengan mengendarai mobil dengan resiko kena macet yang biasanya terjadi tiap weekend di rute yang rencananya akan kuambil. Memang terlindung dari elemen tapi ya tetap saja kemacetan akan membuatku terlambat datang ke tempat tujuan ditambah lagi kelelahan menyetir. Tapi setidaknya kamera dan lensa-lensaku aman dari resiko rusak oleh elemen.
Semua itu membuatku ragu dan YA, aku memang seorang yang peragu.
Apapun akhirnya kuharap tidak ada gangguan dan hambatan karena aku sudah ingin sekali memotret pertunjukan panggung. Kuharap semua bisa dilaksanakan dan lancar-lancar saja.
Label:
keputusan,
lens,
Nikon AF80200D,
Nikon D50,
photography,
Senayan,
Sigma,
stage,
weather
Senin, Februari 09, 2009
Tentang Sebuah Keputusan
"Bukan itu, gue takut buat ngambil keputusan. Gue takut keputusan yang gue ambil itu ternyata salah."
"Tapi kalau kamu tak mengambil keputusan, gimana kamu bisa tahu keputusan yang kamu ambil itu salah atau malah benar? Bukannya kamu harus mengambil keputusan, setelah itu kamu baru tahu itu salah atau benar?"
Sepotong pembicaraan yang terjadi beberapa waktu yang lalu, di pagi dingin di saat semua orang masih lelap tertidur, kecuali beberapa orang saleh yang ingat keharusan sholat lima waktu, yang berjalan melintasi tempat kami duduk, dalam perjalanan mereka ke mushola (diberkatilah mereka dan ibadahnya).
Lalu aku biarkan dia berdebat dengan dirinya sendiri. Kubiarkan dia mempertimbangkan semuanya, pilihan-pilihan yang tersedia dan konsekuensi masing-masing dari pilihan itu. Kubiarkan dia mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Karena, itu adalah hidup dia pribadi.
Bagiku, apa yang bisa kulakukan untuknya sudah selesai.
Kita hanya tahu keputusan kita itu salah atau benar hanya setelah kita kita memutuskannya, bukan sebaliknya.
Yang bisa kita lakukan setelah memutuskan, hanyalah belajar dari kesalahan -- atau kebenaran -- dari keputusan yang telah kita ambil karena hanya dengan itu kita bisa menjadi lebih baik. Kita bisa meneruskan hidup. Kita bisa mendapatkan kebahagiaan yang kita mau.
Untukmu, kau tahu siapa dirimu biarpun kurasa kau tak akan pernah membaca tulisanku di sini, kuharap kau sudah mengambil keputusan.
Langganan:
Postingan (Atom)