Aku tahu kelemahanku adalah dalam menghadapi politik dalam kantor karena...
Aku cenderung tidak peduli dengan segala itu. Akibatnya adalah bahwa aku sering berada dalam kesulitan atau dianggap sebagai orang yang sulit dan tidak bisa diajak bekerjasama. Beginilah bila bekerja dalam sebuah organisasi besar. Ada tarik-menarik kepentingan di dalamnya dan sekali lagi, aku cenderung tidak memikirkan hal seperti itu.
Inilah yang menjadi perhatianku dan seharusnya aku proses agar lebih baik lagi dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar termasuk dalam berpolitik! Kalau tidak, jelas sekali bahwa aku akan stuck di tempat yang itu-itu lagi. Kalau sudah begini, kenapa tidak resign saja, bukan?
“God must’ve loved me so much, He joked a lot with me. Every time I tell stories of my mishap and misfortunes, people laughed.”
Senin, Februari 11, 2013
Kamis, Januari 24, 2013
Disconnect
What I probably need right now is getting myself disconnected from this digital life of mine.
Not checking any social media, answering any calls or text message, emails, or whatever that involved electronic means.
Why?
Because right now I feel lost in so many information that not really essential to my well-being. For my work, yes, very important stuff. But for me as human?
Not so much.
Now the next step to do is to arrange and plan for disconnecting myself.
Not checking any social media, answering any calls or text message, emails, or whatever that involved electronic means.
Why?
Because right now I feel lost in so many information that not really essential to my well-being. For my work, yes, very important stuff. But for me as human?
Not so much.
Now the next step to do is to arrange and plan for disconnecting myself.
Label:
accidents,
action,
amnesia,
education,
emotional quotient,
employee,
enjoy life,
entertainment
Minggu, Januari 13, 2013
Would You Say "Thank You"?
And while sitting here staring at nothingness, would you want to say "Thank You" for all the pain?
Label:
accidents,
action,
anger management,
bandung,
concept,
freedom,
health issues,
help,
holiday,
idle
Selasa, Desember 25, 2012
Selamat... Apa?
Seharusnya pagi ini kita bisa mengucapkan selamat dalam rangka perayaan suatu hari penting dalam kalender kepercayaan tertentu.
Tapi sebenarnya apa yang mau diselamatkan?
Selamat bahwa kita masih hidup dalam negara ini?
Selamat bahwa kita masih bisa beribadah, entah dengan sesama warga negara lain yang terhalang haknya?
Selamat karena kita berkali-kali lupa untuk mengingat bahwa ada banyak sekali hal yang harus diperbaiki dalam hidup bernegara?
Selamat bahwa hari ini masih bisa makan tiga kali sehari?
Apa bedanya hari ini dengan hari kemarin atau hari yang akan datang?
Apa bedanya sekedar hidup saja sudah syukur, dengan orang yang menurut kita jauh lebih berharta daripada kita tetapi yang masih merasa hidup sekadarnya?
Selamat. Iya. Tapi, sebenarnya mau selamat apa?
Tapi sebenarnya apa yang mau diselamatkan?
Selamat bahwa kita masih hidup dalam negara ini?
Selamat bahwa kita masih bisa beribadah, entah dengan sesama warga negara lain yang terhalang haknya?
Selamat karena kita berkali-kali lupa untuk mengingat bahwa ada banyak sekali hal yang harus diperbaiki dalam hidup bernegara?
Selamat bahwa hari ini masih bisa makan tiga kali sehari?
Apa bedanya hari ini dengan hari kemarin atau hari yang akan datang?
Apa bedanya sekedar hidup saja sudah syukur, dengan orang yang menurut kita jauh lebih berharta daripada kita tetapi yang masih merasa hidup sekadarnya?
Selamat. Iya. Tapi, sebenarnya mau selamat apa?
Label:
anger management,
bandung,
basic,
cheap,
Christmas,
common sense,
concept,
cynical,
failure
Jumat, Desember 14, 2012
Making Predictions, Even When Wrong, Is Better Than Not Making Any.
"Start making predictions in writing. You don't have to share them in public, but the habit will push you to understand your instincts and to sharpen your ability to see what works (and what doesn't) without the easy out of having to explain what already happened." - Seth Godin, Are You A Scientist?
Making the right predictions are really hard but not impossible to do. All you have to do is to do it often
Label:
prediction,
preparation,
priority,
problem,
rants,
spreadsheet,
violation
Membangun Kerjasama Tim
Aku benar-benar ingin tahu bagaimana caranya seorang pemimpin yang baik bisa membangun kerjasama tim yang mengagumkan. Apakah itu terkait dengan kemampuan tiap individu yang menjadi elemen dari tim tersebut? Maksudku, bagaimana mungkin orang-orang yang sangat egois dan hanya mengutamakan diri sendiri bisa melepaskan kebiasaan yang sudah mendarah daging dan kemudian membentuk tim dengan kerjasama yang baik?
Tim yang baik terdiri dari orang-orang yang memang ingin dan bisa bekerjasama, bukan?
Tim yang baik terdiri dari orang-orang yang memang ingin dan bisa bekerjasama, bukan?
Label:
life,
managerial skill,
office,
operation,
optimist,
organization,
teamwork,
work
Menunggu Orang Lain!
Saat seperti ini memang menyebalkan dan sangat menjengkelkan karena aku harus menunggu orang lain yang jelas-jelas tidak bersedia bekerja.
Ketika diminta datang, tak datang-datang juga.
Ketika akhirnya datang, tak membawa persiapan seperti yang diminta.
Kenapa sampai tidak menjadi kesal dan jengkel?
Bahasa seperti apa yang harus digunakan untuk menyampaikan maksud kepada orang-orang ini?
Apa harus memanggil orang tua dengan sebutan yang terkesan merendahkan? Atau harus menjadi orang yang "pengertian" atas kondisi "kekurangan" mereka?
Tak mungkin aku yang harus mengerti karena mereka menerima pembayaran untuk menyelesaikan tugas tersebut. Atau harus aku yang mengerjakannya? Hanya demi atasanku mendapatkan peningkatan angka yang bisa digunakan untuk menyenangkan atasan?
Atau aku harusnya melihat dari perspektif bahwa atasan tidak peduli detail dan hanya ingin hasil? Selesai sekian banyak dokumen, tercapai sekian banyak target, dan semua atasan senang? Pekerjaan yang menjengkelkan dengan posisi yang tidak menyenangkan. Tapi sepertinya semua harus ditelan. Demi gaji tiap bulan.
Ketika diminta datang, tak datang-datang juga.
Ketika akhirnya datang, tak membawa persiapan seperti yang diminta.
Kenapa sampai tidak menjadi kesal dan jengkel?
Bahasa seperti apa yang harus digunakan untuk menyampaikan maksud kepada orang-orang ini?
Apa harus memanggil orang tua dengan sebutan yang terkesan merendahkan? Atau harus menjadi orang yang "pengertian" atas kondisi "kekurangan" mereka?
Tak mungkin aku yang harus mengerti karena mereka menerima pembayaran untuk menyelesaikan tugas tersebut. Atau harus aku yang mengerjakannya? Hanya demi atasanku mendapatkan peningkatan angka yang bisa digunakan untuk menyenangkan atasan?
Atau aku harusnya melihat dari perspektif bahwa atasan tidak peduli detail dan hanya ingin hasil? Selesai sekian banyak dokumen, tercapai sekian banyak target, dan semua atasan senang? Pekerjaan yang menjengkelkan dengan posisi yang tidak menyenangkan. Tapi sepertinya semua harus ditelan. Demi gaji tiap bulan.
Minggu, November 11, 2012
Jembatan
Aku masih ingat -- biarpun tidak detil -- hal-hal yang berulang kali menjadi masalah dalam hubungan kami. Semua hal itu bisa dibagi dalam dua kategori:
1. Hal yang berbeda dalam pribadi kami masing-masing, dan
2. Hal yang kami hindari dan tidak dibicarakan, tetapi ada seperti tembok yang menghalangi.
Aku rasa dia juga tahu. Hanya saja dia tidak sampai kelompokkan seperti pembagian di atas. Atau mungkin dia mengkategorikan hal-hal itu tetapi dengan label yang berbeda.
Yang jelas, dalam hal pertama, aku merasa seperti dikekang. Tidak boleh ini. Tidak disetujui itu. Dilarang begini atau begitu. Kadang aku sampai berpikir, seperti dipenjara! Tentu aku tak bisa perbandingkan dengan penjara dalam artian sebenarnya karena aku tak pernah masuk sel tahanan ataupun lembaga pemasyarakatan.
Tetapi ketidaksukaannya yang eksplisit pada hobiku dan alasannya bahwa aku seperti tidak memprioritaskan hubungan kami. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan kepada seseorang yang aku tak tahu punya hobi jelas atau tidak, bahwa yang namanya hobi memang kadang bisa menguasai seseorang sampai berkali-kali menomorduakan pasangannya. Mungkin, seandainya saja dia mulai benar-benar menekuni sebuah hobi yang menuntut upaya dan kreasi, kreativitas, energi, waktu, dan uang, mungkin pada saat itu dia bisa mengerti.
Sementara ini? Aku tak yakin dia bakal paham.
Aku punya pikiran sendiri dan akhir-akhir ini daripada bicara, aku lebih memilih diam dan berpikir. Aku bisa menghabiskan berjam-jam perjalanan dengan seorang supir, berdua saja dalam mobil kantor, menuju lokasi, dan aku tak akan bicara sepatah katapun. Tapi lebih baik diam, menurutku, daripada bicarakan hal yang tak aku minati, ketika aku lebih memilih bergelut dengan pikiranku sendiri.
Sedangkan mengenai hal kedua. Aku tahu dia tahu tapi dia tetap tak mau bicarakan. Itu pilihannya. Itu keputusannya. Seperti menunda dan menghindar. Topik sensitif yang akan menarik kami menuju kutub masing-masing, memisahkan kami begitu jauh sampai, kuharap tidak, kami akan berpisah.
Aku butuh jembatan. Sesuatu yang akan bisa menghubungkan perbedaan kami.
Atau lebih baik, aku belajar menjadi jembatan itu. Resikonya adalah, bila gagal, kami akan terpisahkan...
1. Hal yang berbeda dalam pribadi kami masing-masing, dan
2. Hal yang kami hindari dan tidak dibicarakan, tetapi ada seperti tembok yang menghalangi.
Aku rasa dia juga tahu. Hanya saja dia tidak sampai kelompokkan seperti pembagian di atas. Atau mungkin dia mengkategorikan hal-hal itu tetapi dengan label yang berbeda.
Yang jelas, dalam hal pertama, aku merasa seperti dikekang. Tidak boleh ini. Tidak disetujui itu. Dilarang begini atau begitu. Kadang aku sampai berpikir, seperti dipenjara! Tentu aku tak bisa perbandingkan dengan penjara dalam artian sebenarnya karena aku tak pernah masuk sel tahanan ataupun lembaga pemasyarakatan.
Tetapi ketidaksukaannya yang eksplisit pada hobiku dan alasannya bahwa aku seperti tidak memprioritaskan hubungan kami. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan kepada seseorang yang aku tak tahu punya hobi jelas atau tidak, bahwa yang namanya hobi memang kadang bisa menguasai seseorang sampai berkali-kali menomorduakan pasangannya. Mungkin, seandainya saja dia mulai benar-benar menekuni sebuah hobi yang menuntut upaya dan kreasi, kreativitas, energi, waktu, dan uang, mungkin pada saat itu dia bisa mengerti.
Sementara ini? Aku tak yakin dia bakal paham.
Aku punya pikiran sendiri dan akhir-akhir ini daripada bicara, aku lebih memilih diam dan berpikir. Aku bisa menghabiskan berjam-jam perjalanan dengan seorang supir, berdua saja dalam mobil kantor, menuju lokasi, dan aku tak akan bicara sepatah katapun. Tapi lebih baik diam, menurutku, daripada bicarakan hal yang tak aku minati, ketika aku lebih memilih bergelut dengan pikiranku sendiri.
Sedangkan mengenai hal kedua. Aku tahu dia tahu tapi dia tetap tak mau bicarakan. Itu pilihannya. Itu keputusannya. Seperti menunda dan menghindar. Topik sensitif yang akan menarik kami menuju kutub masing-masing, memisahkan kami begitu jauh sampai, kuharap tidak, kami akan berpisah.
Aku butuh jembatan. Sesuatu yang akan bisa menghubungkan perbedaan kami.
Atau lebih baik, aku belajar menjadi jembatan itu. Resikonya adalah, bila gagal, kami akan terpisahkan...
Langganan:
Postingan (Atom)