“God must’ve loved me so much, He joked a lot with me. Every time I tell stories of my mishap and misfortunes, people laughed.”
Rabu, Juni 08, 2011
Should Try To
Even when the view from the cracked mirror is unpleasant, it is you.
Being hit on a daily basis may constitute as a legal reason for quitting. But that will leave you as a quitter no one would ever remember. Imagine that: A lifelong loser whom nobody remember.
Sad.
Selasa, Januari 05, 2010
Bimbingan, Peringatan, atau ...?
Buat yang tidak tahu, buku Mazmur bab 23 adalah bagian dari kitab Perjanjian Lama, yang biasanya dibacakan seorang pendeta saat upacara penguburan penganut agama Kristen.
Itulah hal yang mengkuatirkanku:
tanpa sebab dan pemicu yang jelas, aku menyanyikan kidung penguburan, yang sepertinya kunyanyikan untuk diri sendiri. Dengan penuh penghayatan.
Kalaupun aku berusaha mengatakan pada diri sendiri kalau tindakan itu adalah buah dari pikiran melantur ke mana-mana, kenapa Mazmur 23? Ada banyak lagu rohani maupun duniawi. Tapi kenapa lagu itu?
Apakah itu alam bawah sadarku yang memperingatkanku? Atau hendak membingku? Atau apa?
Senin, Agustus 31, 2009
I Guess That's One Down
So that's it. After years of working and splurging, experiencing a lot and missing a lot more, high times and low, I am officially broke.
That one experience alone is worth more. I know how helpless one could feel about that. How much money can influence the quality of my life. How was it affecting me, my choices, my actions, etc.
From training myself to be more positive and outwardly, it changed me to the extreme reversion. Such is the power of money. I hope I would never be encountering the same problem again or else I'd be losing my sanity [hyperbole intended].
After -- at least I think I did -- tackled that one problem down, I have another one: to change my spending habit. This one is really hard and I mean, REALLY HARD. I hope I could, though.
While I'm at it, I guess the other one is to confront the result of my own doing a few months ago. This one is as hard as it may be.
God, help me to be able to speak this one out.
Sabtu, Juli 11, 2009
Oh Tuhanku...
**Sigh...**
Tuhan mencintai dan menyayangi aku biarpun aku sering sekali melupakan dan mengabaikannya. Tuhan mendengarkan doa-doaku; permintaan dan permohonanku. Dulu aku meragukan hal ini tapi ternyata tidak juga. Tuhan mendengarkan doa kita yang ditujukan pada-Nya. Hanya saja, sering kali jawabannya adalah, "Tidak."
Atau mungkin, "Nanti."
Lalu adakalanya ketika kita meminta dalam doa yang diulang-ulang, saat kita memohon meminta hanya satu, Dia mengabulkannya dengan memberikan lebih. Lalu kita merasa kaget dan bingung dan segala macam bentuk penderitaan lainnya. Kita mungkin merasa tidak layak terlalu dilimpahi kemurahanhati-Nya. Kita mungkin merasa bingung, "Mau diapakan pemberian sebanyak ini?"
Lalu dalam kebingungan baru kita karena doa kita dikabulkan berlipat ganda, kita malah membuat doa baru kepada Tuhan meminta untuk mengambil lagi berkat-Nya dan hanya meninggalkan satu saja untuk kita. "Cukup satu Tuhan. Sekarang aku tak tahu mau apakan kelebihan ini."
Pernahkah lalu kita merasa seandainya Tuhan seperti aku dan kamu, Dia akan merasa terganggu dan jengkel? Dia akan bilang, "Tadi kamu mohon diberikan, sampai doa berkali-kali. Sekarang Kuberi lebih dari satu, kamu tidak mau. Apa sih sebenarnya maumu, anak-Ku?"
Manusia memang sulit sekali dipuaskan. Manusia memang suka sekali menuntut. Namun, jarang manusia yang sadar kalau Tuhanlah yang memutuskan segala sesuatunya dan manusia cuma cocok menerima saja apa adanya. Ataupun bila sadar, manusia lebih terbiasa untuk melupakannya.
Tuhanku adalah Tuhan yang suka bercanda. Kesukaannya ini didasari oleh rasa cinta kasih-Nya kepadaku.

Selasa, Maret 11, 2008
A Morning Walk

I mean, they are like the antithesis of whatever things were running in this country these days. When people neglecting the rituals and religion, these guys held fast, because they believe they are living the way God had outline lives should be for us humans.
They walked pass me by this morning on their way to some rendezvous place I have no idea of. They walked pretty fast carrying their luggage, hurrying after their group that already a couple of hundred meters ahead of us.
And you might’ve guessed it already. People stared at them. Motorcyclist, shopkeepers, chauffer, school kids, security guys, etc.
That’s because we are so seldom catch sight of guys dressed like them, so faithfully following the style that was (supposedly) similar to the Prophet Mohammed’s days: Long white robe, special head covering, and goatee.
Amazing.
I had this thought of following them wherever they go, just out of my own curiosity.

I’d like to extend my narration here but I must finish my work. After all, I want to go home and sleep.
Zzzz......