Tampilkan postingan dengan label common sense. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label common sense. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 06, 2013

Cari Bidang Baru

Itulah yang harus aku lakukan sejak setahun lalu. Sambil bekerja sambil mendua alias selingkuh.Maksudnya selingkuh ini tentu saja browsing mencari pekerjaan baru, syukur-syukur bidang baru yang bisa menarik karena ada hal-hal yang dapat dipelajari dan terasa seru.

Sepertinya, berada di tempat yang sama dan bidang yang sama, biarpun uangnya menarik, membuatku merasa makin terasing dari diri sendiri.

Sungguh perasaan yang tidak enak.

Seperti menghabiskan aset (usia) yang unrenewable, seperti membunuh diri sendiri pelan-pelan.

Tetapi kalau mau pindah, ke mana? Mengerjakan apa?

Wirausaha? Mengusahakan apa?

Sepertinya aku sedang mengalami krisis dan butuh bantuan atau jalan keluar. Butuh bantuan. Seperti sedang tenggelam pelan-pelan dalam perasaan menjalani hidup tidak optimal. Pantas semangat kerjaku menghilang akhir-akhir ini.

Selasa, Desember 25, 2012

Selamat... Apa?

Seharusnya pagi ini kita bisa mengucapkan selamat dalam rangka perayaan suatu hari penting dalam kalender kepercayaan tertentu.

Tapi sebenarnya apa yang mau diselamatkan?

Selamat bahwa kita masih hidup dalam negara ini?

Selamat bahwa kita masih bisa beribadah, entah dengan sesama warga negara lain yang terhalang haknya?

Selamat karena kita berkali-kali lupa untuk mengingat bahwa ada banyak sekali hal yang harus diperbaiki dalam hidup bernegara?

Selamat bahwa hari ini masih bisa makan tiga kali sehari?

Apa bedanya hari ini dengan hari kemarin atau hari yang akan datang?

Apa bedanya sekedar hidup saja sudah syukur, dengan orang yang menurut kita jauh lebih berharta daripada kita tetapi yang masih merasa hidup sekadarnya?

Selamat. Iya. Tapi, sebenarnya mau selamat apa?

Kamis, Agustus 25, 2011

Doesn't Make Sense

So The Boss made another new set of rules and regulation about incentives, bonus, and targets. The more one finished the job, the bigger the bonus, with larger pay grade with more and more sites being done.

The Site Supervisor, the Project Admins, the Logistic and Procurement officers are all involved in this new bonus scheme. The aim is to motivate employees to do more work at the same month.


Senin, Oktober 18, 2010

Joyless Times (Part 2 of Many)

Life Will Take You Nowhere

If You Do Not Go Anywhere

Joyless Times (Part 1 of Many)

It saddens me that i hurt you no matter what i do.

Sad and depressed.

Even worse, my daily life sucks because i work on a place where i felt stuck.

You know why i don't change work?

Because a change of work will take me farther away from you.

Because i am competent at nothing and you know it as well as i do.

Kamis, Oktober 14, 2010

Worried Sick

I am worried sick about my own job, my own career, and my own future.

Is there nothing that I can do?

C'mon, I am not that stupid as to give up without trying to do anything..?

I will do something about this, because I (see below)

Senin, Agustus 23, 2010

joyless times

it saddens me that i hurt you no matter what i do.

sad and depressed.

even worse, my daily life sucks because i work on a place where i felt stuck.

you know why i don't change work?

because a change of work will take me farther away from you.

because i am competent at nothing and you know it as well as i do.

Senin, Mei 31, 2010

Kita Tak Bisa Percaya

(aslinya diterbitkan di belantara internet pada tanggal 27-04-2007 setelah melihat iklan properti di media cetak yang muncul beberapa hari berturut-turut)

===

Sebagai masyarakat biasa - juga sebagai calon konsumen - sudah sewajarnya kita waspada dan mencermati apa saja informasi yang dijejalkan sehari-hari. Klaim yang disebutkan untuk menyatakan keunggulan produk sudah sepantasnya ditelaah sebelum diterima sebagai kebenaran.

Kadang kita mungkin malah harus mengabaikan informasi yang kurang jelas atau menutup-nutupi realita.

Mungkin contoh yang dapat diberikan adalah tentang produk properti seperti yang terpasang sebagai iklan pada sebuah harian nasional dua minggu berurutan, yang tagline-nya "centralize your life…" dan "stay healthy whealthy & dynamic".

Masalahnya adalah lokasi properti itu di daerah Thamrin, Jakarta Pusat. Sebagai informasi tambahan, ruas jalan Thamrin dan Sudirman adalah area dengan kualitas udara terburuk di Jakarta.

Dan Jakarta adalah salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia!

Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan produk properti tersebut, bagaimana mungkin bisa hidup sehat bila udara yang dihirup sehari-hari saja sudah buruk? Harian nasional yang sama beberapa waktu yang lalu pernah memasang foto yang diambil dari sebuah gedung tinggi di Jalan Thamrin yang tertutup kabut asap putih sehingga jarak pandang ke daerah sekeliling amat terbatas.

Atau apakah mereka (pengelola gedung) telah berhasil mengimplementasikan sistem penyaring udara yang canggih sehingga udara dalam bangunan berkualitas lebih baik daripada udara di luar?

Bila memang begitu, aku ingin tahu, sistem seperti apakah itu?

Lalu, seingatku konsep unggulan mereka adalah bahwa para penghuni yang tinggal di situ dapat pergi ke kantor "dengan berjalan kaki sehingga lebih sehat"!

Memang target konsumen mereka adalah profesional yang bekerja di sekitaran Thamrin.

Tetapi - berhubung manusia tidak bisa berhenti bernapas - bagaimana mungkin bisa sehat kalau udara sehari-hari yang dihirup tidak sehat?

Aku saja berdiri di tepi jalan Thamrin selama sekitar 15 menit merasa napas berat dan tidak merasa nyaman. Lalu bagaimana rasanya bila terus-menerus "menikmati" udara yang seperti itu sepanjang hari dan sepanjang malam?

Aku hanya ingin mempertanyakan dasar klaim iklan saja kok!

Use your brain, not just your heart.

Rabu, Januari 20, 2010

Tak Mudah Menjalani Hidup

Begini teman: Kupikir daripada mengkomposisi sebuah post yang lengkap dan (biasanya) cukup panjang, kenapa tidak membuat sebuah post pendek/singkat/padat yang memang mungkin tak mencakup seluruh hal yang ingin kusampaikan, tapi setidaknya dengan cara itu update yang kulakukan akan lebih rutin?

Seperti yang kutulis sekarang tentang menjalani hidup sebagai seorang blogger. Aku memang berniat membuat website pribadi, tetapi yang menghambatku adalah selain teknik atau cara apa membuat konten, tema apa yang akan jadi garis utama atau benang merah website itu? Fotografi? Sudah banyak profesional yang membuat blog yang jelas-jelas banyak dikunjungi. Jadi apa yang bisa kutawarkan dalam website pribadiku tentang fotografi? Kurasa tak ada.

Jadi apalagi yang bisa kutawarkan dan membuatnya menarik? Aku tak tahu dan untunglah aku belum menyerah untuk mencari tahu dan mempertimbangkan apa isi website pribadi tersebut. Sayang sekali hambatan kali ini adalah selain keterbatasan alat (laptop rusak) dan aksesibilitas (tak punya modem pribadi), waktu yang tersedia untuk mempelajari cara pembuatan website juga terbatas karena pekerjaan sudah mulai ada denyut kesibukannya.

Omong-omong, aku perlu mengecek ke bagian keuangan, apakah urusan pajak pribadi sudah diurus? Apakah SPT sudah diisi dan dilaporkan? Bila sudah, mana salinannya? Bila belum, kapan mau dilaksanakan?

Senin, Oktober 27, 2008

A Sea Of Difference...

You know how much I might differ from your average male friend?

A lot, maybe.

This one example, was when I browse latest gallery upload on one of a photography community website here, while people actually comment on how funny the picture is; the great tonal; what I saw give me the creeps and send a cold-chill down my spine.

Actually, seeing the thumbnail first even gave me shiver.

It portrayed some kind of monkey behind cage, the expression is almost made me want to puke -- like every time I see despair in people's eyes. That kind of pictures: despair; hopelessness; agony; fear; touches me at a very basic level, the kind that evoke deep emotions.

And it bothers me, a lot.

Crap.

Rabu, September 10, 2008

Let Me Quote You: Perhaps DEATH Is Proud

from a New York Times article which can be found fully here.

What can one do? Go home, love your children, try not to bicker, eat
well, walk in the rain, feel the sun on your face and laugh loud and
often, as much as possible, and especially at yourself. Because the
only antidote to death is not poetry, or drama, or miracle drugs, or a
roomful of technical expertise and good intentions. The antidote to
death is life.

which I found really true.

Selasa, September 09, 2008

60-Second Guide to Planning for Disaster Recovery

0:60 Evaluate Your Risk
Evaluate the possibility of each of the following disasters occurring and how your business would
recover from it: hardware failures, theft, malicious acts, mistakes, natural disasters.

Ask: How much is my data worth? How much would downtime cost my business each day? Each hour? Each minute? How much would my business lose if that data were lost permanently?


0:48 Plan for Disaster Recovery
Risk = Asset (anything that's valuable to your company) x Threat (events that may compromise
your data) x Vulnerability (weaknesses that might allow for the failure of a control that affects the confidentiality, integrity, or availability of your assets). Perform both qualitative and quantitative risk assessments, then choose from four risk management options:
mitigation, acceptance, avoidance, and transference.



0:36 Understand Business Continuity Planning (BCP)
Form a BCP team to reduce the possibility that your business will be interrupted in the event of a disaster. Teams should have the right balance of technical skills, business process knowledge, and leadership to make your organization disaster resistant.


0:27 Evaluate Continuity and Recovery Solutions
Investigate possible technology solutions for disaster recovery: high-availability solutions, including redundant disks, mirrored servers, and clustered servers; uninterruptible power supplies (UPSs); data backup and off-site storage of media; and alternate-processing facilities,
including hot, warm, and cold sites.


0:18 Document and Maintain Your Disaster Recovery Plan
Document your disaster recovery plan in a format that's available to everyone who's expected to play a role in disaster recovery. Train responders. And keep the plan current in the face of your changing risks, infrastructure, and business environment.

0:07 Test Your Disaster Recovery Plan
Test your disaster recovery plan before disaster strikes. Choose from several testing methodologies for your organization's culture and resources, including: desk checks, structured walkthroughs, disaster simulation, parallel tests, full interruption tests, and routine tests.


© 2007 Hewlett-Packard Development Company, LP

Senin, September 08, 2008

OMG This Place's Kinda Over-hyped!

I went to my Facebook's Home page when I saw that a friend of mine just joined this RUSTIQUE Grill & Wine group.

YES, the food (supposed) to be great!

YES, the tiramisu taste very delicious!

And YES, the interior is so much -- I didn't know how to call it since I'm not that eloquent enough. It's just own that aura, atmosphere, and look that spelled: E-X-P-E-N-S-I-V-E.

But I -- in my own small, self-righteous mind -- think that this place is just over-hyped. In my opinion, I must disagree with claims that saying this place is one of the best restaurants in Indonesia.

Hell, maybe I'm wrong.

But the stuff there is just overpriced and I just think that all these people (in Jakarta) can live without all that splurging in the incessant spoils.


===

Oh yes, the contact info:








Email:
Website:
Office:
Plaza Senayan Level P4 #413 - XXI Complex
Location:
Jakarta, Indonesia


Rabu, Agustus 20, 2008

Bitchin' Bout Benefit Of Bein' Attractive

Kenapa kita bisa begitu bodoh?

Kebanyakan orang (baca: lelaki) akan dengan mudah dimanfaatkan oleh wanita-wanita yang memiliki daya tarik fisik lebih.

Kebanyakan wanita (dan pria) yang secara fisik lebih menarik untuk dilihat akan mendapatkan keunggulan dan kemudahan lebih daripada mereka yang secara fisik tidak cukup menarik untuk dilihat.

Kebanyakan wanita (dan pria) tidak perlu berusaha bekerja sekeras orang lain yang secara fisik termasuk kategori "biasa saja". Ini kenyataan dan kebanyakan dari kita yang termasuk golongan "tampilan fisik biasa saja" sudah menerima kenyataan ini sebagai realitas sekaligus kondisi normal/wajar.

MASALAHNYA, INI TIDAK WAJAR!!!

Aku menganggap ini tidak adil. Aku menganggap pembedaan perlakuan ini tidak benar.

Sayangnya, sering kali aku juga melakukan hal yang sama. Aku mengistimewakan orang (baca: perempuan) yang menarik secara fisik. Rasanya tidak tega untuk berlaku keras dan menerapkan peraturan yang sama kepada kelompok ini. Seakan-akan penerapan disiplin yang sama akan merusak kemulusan kulitnya; menimbulkan kerutan di wajah cantiknya; membuat harinya tak lagi indah. Sehingga seakan-akan semua itu adalah dosa...

Brengsek...! Aku, kau, kalian, mereka, semua TOLOL!

Orang-orang seperti ini biasanya "terbiasa" dipenuhi semua keinginannya. Biasa dibukakan jalannya. Biasa dimudahkan kerjanya. All that benefit for being granted celestial beauty.

Aku sadar kenyataan ini. Aku tidak menyukai kenyataan ini. Aku menentang keadaan ini. Aku membenci orang-orang yang menyadari efek dari daya tarik fisik mereka dan memanfaatkannya dengan sebesar-besarnya kemakmuran diri sendiri.

Aku memang goblok dan menerapkan standar ganda.

Sebab ternyata sering kali aku malah membantu; menolong; mengutamakan kenyamanan kaum pemilik daya tarik fisik ini.

= = = = = = = = =


Seperti kata mendiang Ivan Scumbag : "KALIAN SEMUA T**!!!"

UPDATED: 2008-08-22

This time I saw -- thus, experienced -- again things that I've said above.
I mean, other than this one person is physically attractive, her attitude made me -- NO, scratch that -- make me want to (censored), (censored) and (censored)!!!

The opposite sex easily fell for this physically beautiful person, JUST BECAUSE THE PHYSICAL APPEARANCE ONLY.

WHICH MADE ME ASPHYXIATED IN ANGER.

US DAMN MORONS!!!