Aku percaya bahwa Tuhan ada. Hanya saja Dia bekerja dengan hukum-hukum alam yang bisa dicari dan dirumuskan (baca: dipahami) oleh manusia.
Aku ingin dapat berkarya dalam hidup, memberikan sumbangan bagi kemanusiaan -- seberapapun kecil dan tak berartinya -- dengan tulus. Aku hanya belum tahu harus memberikan dalam bentuk apa.
Aku tak ingin hidup dalam kehidupan orang lain. Aku ingin hidupku sendiri.
Aku ingin bisa berbagi dengan orang lain. Saat ada yang berterima kasih kepadaku, aku senang dan merasa hidup tidak sia-sia.
Hidup pasti ada cobaan. Aku hanya perlu bertahan, mencari solusi bagi masalah yang timbul, dan menerima apa yang memang sudah terjadi dan tak bisa kuubah lagi. Tak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi.
Aku ingin dapat lebih santai dan menikmati hidup. Terburu-buru itu melelahkan. Sayangnya, aku tahu aku sudah ketinggalan banyak hal. Satu-satunya cara mengendalikan kerugian yang sudah terjadi adalah dengan mengejar segalanya. Efeknya adalah hidup yang tak lagi bisa dinikmati sepenuhnya. Trade-off, sepertinya, harus menjadi hal yang kuterima dalam hal ini.
Aku ingin punya teman-teman sejati. Selama ini masih sulit kutemukan. Masalahnya adalah mungkin karena aku belum bisa menjadi teman sejati bagi orang lain.
Aku mau bisa membaca lebih banyak lagi buku yang menarik. Melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Aku yakin dengan melakukan kedua hal ini, hidupku akan semakin kaya.
Seandainya aku lebih peka, sensitif terhadap keadaan sekitarku, pastilah banyak hal menarik dan bermanfaat yang bisa kupelajari tanpa harus pergi jauh bertualang. Terdengar kontradiktif dengan ucapanku sebelumnya, tapi itulah hidup. Tak ada yang sederhana tetapi semuanya bisa diselesaikan dengan sempurna dalam kesederhanaan alam semesta.
Aku ingin bisa mempertanyakan "Kenapa?" pada banyak hal tetapi bisa menerima orang yang memang tidak bisa berubah.
Seharusnya aku tak menyalahkan orang lain selain diriku sendiri, atas apa yang terjadi dalam hidupku.
“God must’ve loved me so much, He joked a lot with me. Every time I tell stories of my mishap and misfortunes, people laughed.”
Tampilkan postingan dengan label kemang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemang. Tampilkan semua postingan
Minggu, Agustus 07, 2011
Senin, Februari 09, 2009
Tentang Sebuah Keputusan
"Bukan itu, gue takut buat ngambil keputusan. Gue takut keputusan yang gue ambil itu ternyata salah."
"Tapi kalau kamu tak mengambil keputusan, gimana kamu bisa tahu keputusan yang kamu ambil itu salah atau malah benar? Bukannya kamu harus mengambil keputusan, setelah itu kamu baru tahu itu salah atau benar?"
Sepotong pembicaraan yang terjadi beberapa waktu yang lalu, di pagi dingin di saat semua orang masih lelap tertidur, kecuali beberapa orang saleh yang ingat keharusan sholat lima waktu, yang berjalan melintasi tempat kami duduk, dalam perjalanan mereka ke mushola (diberkatilah mereka dan ibadahnya).
Lalu aku biarkan dia berdebat dengan dirinya sendiri. Kubiarkan dia mempertimbangkan semuanya, pilihan-pilihan yang tersedia dan konsekuensi masing-masing dari pilihan itu. Kubiarkan dia mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Karena, itu adalah hidup dia pribadi.
Bagiku, apa yang bisa kulakukan untuknya sudah selesai.
Kita hanya tahu keputusan kita itu salah atau benar hanya setelah kita kita memutuskannya, bukan sebaliknya.
Yang bisa kita lakukan setelah memutuskan, hanyalah belajar dari kesalahan -- atau kebenaran -- dari keputusan yang telah kita ambil karena hanya dengan itu kita bisa menjadi lebih baik. Kita bisa meneruskan hidup. Kita bisa mendapatkan kebahagiaan yang kita mau.
Untukmu, kau tahu siapa dirimu biarpun kurasa kau tak akan pernah membaca tulisanku di sini, kuharap kau sudah mengambil keputusan.
Langganan:
Postingan (Atom)