Tampilkan postingan dengan label flashback. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flashback. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 31, 2010

Kita Tak Bisa Percaya

(aslinya diterbitkan di belantara internet pada tanggal 27-04-2007 setelah melihat iklan properti di media cetak yang muncul beberapa hari berturut-turut)

===

Sebagai masyarakat biasa - juga sebagai calon konsumen - sudah sewajarnya kita waspada dan mencermati apa saja informasi yang dijejalkan sehari-hari. Klaim yang disebutkan untuk menyatakan keunggulan produk sudah sepantasnya ditelaah sebelum diterima sebagai kebenaran.

Kadang kita mungkin malah harus mengabaikan informasi yang kurang jelas atau menutup-nutupi realita.

Mungkin contoh yang dapat diberikan adalah tentang produk properti seperti yang terpasang sebagai iklan pada sebuah harian nasional dua minggu berurutan, yang tagline-nya "centralize your life…" dan "stay healthy whealthy & dynamic".

Masalahnya adalah lokasi properti itu di daerah Thamrin, Jakarta Pusat. Sebagai informasi tambahan, ruas jalan Thamrin dan Sudirman adalah area dengan kualitas udara terburuk di Jakarta.

Dan Jakarta adalah salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia!

Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan produk properti tersebut, bagaimana mungkin bisa hidup sehat bila udara yang dihirup sehari-hari saja sudah buruk? Harian nasional yang sama beberapa waktu yang lalu pernah memasang foto yang diambil dari sebuah gedung tinggi di Jalan Thamrin yang tertutup kabut asap putih sehingga jarak pandang ke daerah sekeliling amat terbatas.

Atau apakah mereka (pengelola gedung) telah berhasil mengimplementasikan sistem penyaring udara yang canggih sehingga udara dalam bangunan berkualitas lebih baik daripada udara di luar?

Bila memang begitu, aku ingin tahu, sistem seperti apakah itu?

Lalu, seingatku konsep unggulan mereka adalah bahwa para penghuni yang tinggal di situ dapat pergi ke kantor "dengan berjalan kaki sehingga lebih sehat"!

Memang target konsumen mereka adalah profesional yang bekerja di sekitaran Thamrin.

Tetapi - berhubung manusia tidak bisa berhenti bernapas - bagaimana mungkin bisa sehat kalau udara sehari-hari yang dihirup tidak sehat?

Aku saja berdiri di tepi jalan Thamrin selama sekitar 15 menit merasa napas berat dan tidak merasa nyaman. Lalu bagaimana rasanya bila terus-menerus "menikmati" udara yang seperti itu sepanjang hari dan sepanjang malam?

Aku hanya ingin mempertanyakan dasar klaim iklan saja kok!

Use your brain, not just your heart.

Rabu, Mei 26, 2010

trust in you

(previously published somewhere in the internet on 24-09-2008)

Here is to another frustration-heavy holiday season!

As always been in these previous four years, again and again it felt like Matthews is taking most of the crap a company can produce and empeloyees threw at.

Why in Hell it seemed that everytime a vacation time loom, people tend to dismiss responsibilities altogether? It was just, “Hey, tomorrow is holiday. Screw this assignment!” and just drop everything and start sitting around just talking and laughing and be merry?

No, I overexaggerated it.

But as some collagues are tune in into holiday, all the assignment are being dumped on me.

I mean, as soon as people saw a slack (or rescheduled) deadline, they stop working because, “It’s not even due soon, anyway.” Or, “We’ll work it out after vacation.” Which in reality some of it’d probably went my way to make things work; made some finesse changes and alteration; and took larger responsibilities.

I had to leave my own work to supervise some R&D work and now it’s clear to me that even when I went away for the same holiday season, it’d be guilt-ridden because all the unfinished tasks just playing shadows in the back corners of my mind.

Even when I worked overtime, those tasks still refuse to see an end. I had to review and re-review it again with my boss because the volume are all translated into money. And in business, money is crucial. Hey, my position is crucial for the company but the position came with the burden of taking responsibilities about the progress and continuation of almost all our operation in Indonesia.

That’s sucks.

But I guess that’s just me. A semi-antisocial guy with a twisted sense of humor.

tattooed women, bad?

(originally published somewhere in the internet on 20-02-2006)

===

yesterday, a friend of mine, what would i think if she get a tattoo.

she just want to express herself more and the best way it seems is to get a tattoo. her concern is that it might just get in the way when she applied for a job after graduated. i told her that i think the only way it'd be an issue if she did apply for PNS or banking institution - or any position where your appearance really matter.

if you're healthy, tattoo can't make you failed on health test/medical check-up. i also told her to sport a temporary tattoo first, to put it right where she want her permanent one, and get the feeling of having a tattoo, for a permanent tattoo is just gonna stick forever to her skin.

she also asked, "what would you guys be thinking of a woman like me had tattooes?"

i told her, "personally, i think it is sexy, it's sensual, it's hot! as long as the tattoo suit her and she is comfortable with them.

"what about the stereotyping of tattoed person = bad person. it worse if it's a woman?"

"well, if you're more interested in what other people might think, then you better not get one. if you feel you can go on ignoring other people's opinion, then go get one!"

now, you, dear reader, after reading this, you know where i stand on this matter. i just asked you for your opinion, are tattoed women equal bad girls?

let me know, please.

Smoking Women, Banned?

(originally published somewhere on the internet on 14-01-2006)


just curious: why is that some people - including some that i have personally known - dislikessmoking women? i mean, to them (and probably you too), think that it is inappropriate for women to smoke, but think otherwise for men. is it okay - and normal - for men to smoke because they are men? is it wrong for women because women shouldn't be smoking in the first place? i had started some never ending debates over this issue and the reason why they were unfinished because both parts kept to their own POV.

that's what i am trying to start right now. i think i am not a feminist, but the idea that women should and shouldn't do something just because they're females just a little bit absurd, since a child can not decide what sex he/she born with (that's why we got transsexual now) and rights shouldn't be limited to some factors that you can't really control (sex, skin color, place of birth, etc.).

i have to admit, i am not a smoker and sometimes i just can not tolerate the billowing smoke. that's why in the past times i just left the room abruptly. so maybe you can say i am biased. when i was a child, my father is a smoker. but he quit for reasons i still haven't found out. of course i stole some cigarette he owned, just out of curiousity, to feel what is it like to be smoking. i lighted the cigarette, try it, then coughed because the smoke stung my senses. i threw it away while my so-called friends laughed at me. i do not left them though. i sat with them watching they consume rest of my thieving goods. yes, afterward there are peer pressure too, but maybe the pressure is not enough to "break" me.

all in all, this is all about option and just to think that there are other people out there that think you SHOULD or SHOULDN't do something because it is inappropirate based on some weak reasons makes me wondering...

cont'd

Cita-Citaku

(originally posted somewhere on the internet on 31-10-2005)


cita-citaku, ingin menjadi polwan, tapi sayang aku seorang lelaki

- "cita-citaku" by the panasdalam



waktu kecil, aku pernah ingin menjadi seorang "supir tank". aku tak mau jadi tentara, aku mau jadi "supir tank". tentu gagah sekali membawa kendaraan sebesar itu, dengan meriamnya yang mampu menghancurkan lawan.

itu sebelum aku menonton serial CHIP's.

setelah itu aku ingin menjadi seperti eric estrada, mutar-mutar kota naik moge, dengan helm, kacamata hitam, dan sepatu boot kulit. bunyikan sirene dan nyalakan lampu strobo. gagah!

itu sebelum aku menonton Goggle V.

setelah itu aku ingin menjadi goggle merah, memimpin teman-teman membasmi kejahatan. menaiki robot raksasa dan bertarung melawan monster.

lalu menyusul pula kamen rider black, gaban, sharivan, megaloman, dan zabogar,dan lionman. semuanya keren. saat itu terjadi krisis identitasku yang pertama. mau jadi apa aku nanti?

tapi, di atas itu semua, aku hanya mau jadi ULTRA-MAN. datang ke bumi dari planet Ultra, menolong Jepang dari kehancuran yang diakibatkan oleh monster! tapi sayangnya aku tak akan bisa bertahan lama dalam wujud ultra,karena pengaruh kosmik bumi yang berbeda dibanding dengan di rumah.


kemudian aku menonton serial "the incredible hulk" sehingga aku memutuskan: SCIENCE IS THE ANSWER! setelah risetku berhasil dan aku berhasil menemukan cara untuk menjadi manusia super, aku akan bertualang untuk menegakkan keadilan versiku sendiri dan untuk menolong orang-orang. tentunya dengan imbalan tertentu. toh riset dan percobaan membutuhkan biaya.

tetapi kemudian aku menonton MTV Headbanger's Ball. dan hey! rasanya keren bisa bermain gitar, menggebuk drum, berteriak-teriak di mic di hadapan puluhan ribu fans yang berteriak, meloncah, mosh, headbanging bersama. sungguh suatu pemice adrenalin yang luar biasa!

lalu aku membaca All That Remains karya Patricia D. Cornwell. kuputuskan, aku akan menjadi seorang ahli forensik yang gigih membongkar kejahatan dengan cara membedah mayat. tentunya dengan cara-cara yang ilmiah pula. once more, science attracted me. ternyata aku bertemu dengan guru biologi di smu yang dengan sukses menghilangkan keinginanku untuk itu. apalagi aku harus mengambil kedokteran, ikatan dinas, sebelum bisa ambil spesialisasi forensik.

terjadilah krisis tahap 2. mau jadi apa aku ini???

aku pernah ingin menjadi perampok bank. lengkap dengan aksi tembak-tembakan dan meloloskan diri dengan mengebut dan taktik pengecohan yang brilian. bukan seperti si dalton bersaudara dalam komik lucky luke.

aku pernah ingin menjadi professional surfer/waverider. main ke pantai setiap hari, mengendarai ombak. berjemur di pantai. berpesta dengan gadis-gadis cantik berbikini. what a dream!

aku juga pernah ingin menjadi penulis. cerita fantasy seperti Piers Athony (thanks to Adeline for introducing me to him), atau science fiction seperti Michael Crichton, atau sang pelopor: Jules Verne!

mengasyikkan untuk bisa menulis sesuatu yang akan menggugah seseorang.

tapi sekarang, tak satu pun cita-cita dan keinginan itu yang kesampaian. menyedihkan? tidak juga. aku memutuskan untuk menjalani hidup apa adanya. at least, pekerjaanku sekarang masih mengandung unsur-unsur pendukung dari beberapa cita-citaku.

jadi, kecuali soal gaji dan jam kerja, i have no complaints!

Going Home for Christmas

(originally posted somewhere on the internet on 31-10-2005)

Today, my boss' wife asked me whether or not I'm going home for this year's Christmas. I told her that I doubt it. Then she asked me why and I replied that's because "going home" is not a high;y-anticipated opportunity in my uneventful life.

But it does spark something in my head. Since I left home after graduating from high school, I've been celebrating Christmas only twice with my family. That was on 2000 and 2001. Other times, I was in Bandung, West Java, and Pontianak, West Borneo.

I did miss something from the usual family reunion. That's the ritual of going together to the church and helping in the kitchen. Actually, I am not a help at all, being a nuisance when I was a kid. Everytime a new batch of cookies out of the oven, it'd be me and/or my brother's task of tasting them.

But now, the term: "Going Home for Christmas" is just like any other sentence. I haven't come home for such a long time that I forget how and what it was like. I don't see a need for coming home, to meet my parents and sisters. I don't see the importance of "mudik" that my other fellow Indonesian do at this time of the year.

What's so great with coming home and meet up with your family and friends? How come most people feel the urge - so great thet they'd do almost anything to reach HOME - to go "mudik" while there are some people that won't be able to do it at all?

Pontianak, 18 September 2005

(originally published on 18-09-2005 somewhere on the internet)

Hari Minggu, 18 September 2005, kota Pontianak. Sebenarnya tak ada yang istimewa. Kecuali pada saat aku keluar mau makan siang, jalanan terasa sepi padahal dari itu hari libur. Banyak toko yang tutup pula. Ini tidak normal, pikirku.

Kemudian aku ingat, hari ini hari baik! Alasannya sebagai berikut:

1. Hari Minggu = hari libur

2. Tanggal 18 September 2005 menurut kalender bulan adalah malam bulan purnama, which brings good things.

3. 18 September = 18 bulan 9 = 1 + 8 + 9 = 18 = 1 + 8 = 9! which is good too..

Itu sebabnya jalan sepi, toko pada tutup, warnet juga sepi! Hore! Yang rame itu gedung-gedung yang disewa untuk acara resespsi pernikahan, maupun beberapa rumah yang dipakai buat pesta pernikahan. Pokoknya banyak deh yang menikah pada hari itu...

Malam harinya jalanan mulai ramai. Terutama SPBU/pom bensin. Beberapa SPBU memang sejak Sabtu malam telah memasang tanda "bensin habis". Akibatnya orang terpaksa membeli bensin eceran yang banyak di tepi-tepi jalan. Begitu stok BBM ada di SPBU resmi, berdatanganlah para pemilik kendaraan. Termasuk aku.

Dalam setengah jam, antrian mobil dan motor telah mencapai hampir 1 kilometer! Padahal mobil ada dua baris dan motor juga dua baris antrian. Jadi jumlahnya perkirakan saja sendiri!

Polisi segera datang untuk mengatur barisan antrian demi mencegah keributan dan mengatur lalu lintas karena sudah macet pada ruas jalan itu.

Untunglah aku lewat ketika SPBU baru mulai operasi sehingga antrian di depanku cuma sekitar 20-an meter saja.

Buat teman-teman yang belum pernah merasakan antrian untuk mengisi BBM (misalnya di Bandung dan Jakarta), mungkin tak bisa membayangkan kondisi seperti ini yang bisa terjadi paling tidak seminggu sekali.

wayfarer's journey

(originally published 23-04-2005 somewhere on the net)

DAMN…

have you ever imagined, to travel for 6 hours on a leaking-while-it-rains bus and still in the same province? it stretch for more than 250 km, about a quarter of it was a thank-God-there-is still-a-road-exist-here, plus another hour (at least) just to reach a resting place that you usually use while in town? not that it was far, but the damn bus take a very slow motion trip just to cover 30 km.

i’m not being ungrateful.
hey, at least i still got a job, a career, and get paid to travel and see places.
what? pictures? well, i get a hold on a digital camera but there was little possibilities that i will be able to upload some of the pictures i have already taken.
why? well, it’s because the damn internet cafe here only support 3 1/2" disks and not flash-disks.

but for me, this borneo is already losing its charm. still there is a lake that holds all the wildlife of the entire borneo. but that is located far north. i won’t be travelling that way this year anyway. the mistycism that envelopes the dayaks has wear off. the most interesting thing now is where and how can i get one of those tribal tattoo?

sh*t!!!

now i sound like a complete wuss. i hate it when i doin’ this. but you’re the blog, why shouldn’t i spill it all out for you? not all of my writings will be like this one. it’s just because sometime i feels like ny journey here is about to end. if i had decided that i’m fed up with all of this, i’d bail out.
that’s it.


p.s.:

my travel gear:
1. nordwand 45L from eiger
2. ericsson r250s pro and siemens m55
3. reebok sneakers
4. safety goggles
5. sponsored cap, lindores cranes and rigging, already worn out
6. krisbow multi-use tools

Rabu, Mei 12, 2010

12 Mei 2010

Sekarang hari Rabu, 12 Mei 2010, sedang berada di sebuah kota di Jawa Barat. Hari ini harus melakukan perjalanan lagi, beberapa ratus kilometer saja. Tidak terlalu melelahkan, mungkin.

Tetapi aku teringat berbagai macam peristiwa dua belas tahun yang lalu yang mengubah Indonesia. Demonstrasi di daerah-daerah sampai berujung ke kerusuhan di Jakarta dan kemudian pergantian presiden.

Sekarang sudah dua belas tahun dan tidak terasa pemimpin yang sekarang seperti meniru beberapa pola yang dipakai pemimpin yang mengundurkan diri pada masa itu: misalnya menempatkan anggota keluarga di legislatif; merapat ke Partai Golkar; lebih peduli pencitraan dibanding menjalankan pemerintahan yang bersih; dan beberapa hal lainnya.

Dua belas tahun yang lalu saat masih bersekolah, aku ikut turun ke jalan bersama banyak teman. Sekarang, aku turun ke jalan karena dituntut oleh pekerjaan. Dulu aku menuntut Indonesia yang lebih baik. Sekarang aku hanya memikirkan mendapatkan uang untuk bertahan hidup.

Idealism, meet reality.

Dua belas tahun sejak tahun penuh peristiwa, 1998 itu, aku sadar bahwa jalan Indonesia untuk menjadi lebih baik masih panjang dan masih membutuhkan waktu yang lama. Aku sadar, mungkin pemimpin yang sekarang memiliki agenda tersendiri yang tidak terlalu berkaitan dengan ke-Indonesia-an yang dicita-citakan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

Kedengarannya pesimis? Memang. Tapi bukan berarti hilang harapan.